Skip to main content

Editor's Life / Trend Buku yang Dicari Penerbit untuk Pembaca Millenials

Apakah kalian masih suka membaca buku?

Kalau saya sih masih!

Beberapa bulan terakhir, saya lebih banyak membaca buku-buku dengan tipe yang sama. Berhubung saya ini orangnya sangat mainstream—nggak usah diragukan, saya pun membaca buku sesuai dengan trend yang ada. Saya pun membaca buku-buku yang diminati pembaca muda zaman sekarang, buku-buku yang nggak lagi didominasi oleh teks yang panjang dan tebal. Bahkan sebagian besar terdiri dari kumpulan gambar dan foto, dengan teks yang ringan, yang bisa habis dilahap dalam “sekali duduk”. Banyaknya buku-buku tipe ini yang nangkring di rak best-seller ini cocok dengan kebiasaan sebagian besar dari kita yang makin sering menghabiskan waktu menonton video dan membaca artikel singkat di media sosial.

Tentunya, semua ada kaitannya dengan profesi saya sebagai editor. Jadi selain membaca, saya juga turut mengamati. Mengapa buku-buku "bergambar" yang sangat nyaman dibaca ini menjadi idola baru. Mengapa saya nggak segan merogoh kocek untuk buku-buku dengan hardcover, halaman tak lebih dari 200, dan penuh warna. Benar-benar pengurai stress sih buat saya yang sering nggak pede-an dan banyak pikiran sehari-seharinya ini.

Pernah saya dibuat gemas, ada yang bilang membuat buku seperti itu adalah hal yang mudah. Oh, God no. Tentu saja, nggak. Pengalaman sulit saya sebagai editor yang berusaha mengumpulkan mereka yang mau menulis buku semacam ini mengajarkan banyak hal.

Makanya saya ingin sekali menyambut bakat baru di luar sana, terutama bagi kamu yang kurang bisa menulis berpanjang-panjang, saya bilang ini adalah kesempatan emasmu.  Dan kalau kamu masih menganggap bahwa menerbitkan sebuah buku masih menjadi impianmu, maka boleh lah simak dua jenis buku yang saat ini menjadi salah satu fokus saya, sebagai seorang editor di salah satu penerbit. Terutama bagi kamu yang remaja atau ingin menyasar segmen pembaca millenials.


Charmingly-Illustrated Book
Buku berilustrasi pada dasarnya memang identik dengan segmen pembaca anak, mayoritas diciptakan  oleh penulis yang memiliki selera visual yang apik. Namun, dalam empat  tahun belakangan ini tipe buku ini memang semakin mendapat tempat khusus di hati pembaca, terutama pembaca muda di Indonesia. Memadukan gambar dengan teks yang menjadi ide utama, buku-buku dengan jenis ini serasa menjadi teman pembaca menghadapi berbagai situasi. Inspirasi untuk tema buku ini bisa sangat lebar, mulai dari gaya hidup, pencarian jati diri, memasak, hingga jalan menghadapi patah hati.

Dalam proses menulis, tipe  buku lebih baik ditulis oleh seorang penulis yang juga merupakan seorang ilustrator. Tenang ... Kalaupun tidak bisa menggambar atau membuat ilustrasi sama sekali, setidaknya kamu memiliki bakat membuat konsep dan merangkai susunan buku yang baik. Nggak menutup kemungkinan kalau kamu juga bisa berkolaborasi dengan ilustrator (jika kamu lebih jago menulis teks dan bikin konsep) atau dengan penulis dan editor (jika kamu seorang ilustrator dengan kemampuan menulis terbatas).

Buku-buku yang masuk dalam kategori ini, misalnya:  Happiness is Homemade (Puty Puar),  69 Cara Traveling Gratis (Trinity & Yasmin), dan Am I There Yet? (Mari Andrew)

Happiness Is Homemade


Am I There Yet


69 Cara Traveling Gratis


Aesthetic Book
Buku berisi intisari pemikiran yang sangat subyektif dari penulisnya. Ciri khas dari buku adalah pengemasannya yang banyak terinspirasi dari layout majalah dengan estetis dan indie seperti Kinfolk, Cereal, dan Buku Serial Rookie Yearbook. Buku dengan tipe ini berisi foto-foto yang tak hanya mendukung pesan dari teks, kadang foto-foto tersebut justru menjadi kekuatan utama buku. Inspirasi tema yang bisa dikembangkan dari buku tipe ini juga sama luasnya, dari pengamatan akan perilaku milenials hingga curahan hati yang dikemas dengan teks puitis. Kadang penulis juga bisa mencoba mengangkat hal yang beda dan seru, meskipun sebenarnya tema yang diangkat sedang tidak diminati oleh publik. Menantang, bukan?

Buku tipe ini cenderung tidak membutuhkan banyak campur tangan dari pihak penerbit, terutama karena materi foto sudah disiapkan sedari awal sudah harus lengkap dan mendekati sempurna. Selanjutnya, bersama-sama dengan penerbit, penulis akan menyempurnakan tulisan, menentukan penataan halaman, dan jenis spek cetak, supaya sesuai dengan sasaran pembaca yang dituju.

Judul buku yang mirip dengan tipe buku ini, misalnya Dear Tomorrow (Maudy Ayunda).

Dear Tomorrow
 
Menurut saya, penulis zaman ini tidak segan menyesuaikan diri dan mengakomodasi pembacanya. Kalau kamu putus aja dengan pasar industri buku yang diberitakan terus akan turun, gelombang buku-buku best-seller dengan format modern ini mungkin bisa menjanjikan harapan baru.

Sudah, kalau ada yang tertarik, please jangan berpikir terlalu lama untuk bergerak dan memulai. Get in here, guys!

Comments