Skip to main content

Useful Apps / Headspace


Hampir dua minggu belakangan saya merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuh saya, memang sih nggak sampai jatuh sakit (alhamdulillah). Saya jadi susah tidur, padahal saya bukan tipe manusia nokturnal lho normalnya, jam 9 saya udah ngantuk, leren-leren, jam 10 sudah lelap. Sudah dalam taraf mengkhawatirkan deh kalau udah begini, dan terjadi hampir setiap hari. Nggak pengaruh walaupun saya sehabis memeras otak seharian di kantor, lalu langsung pengin tidur awal ... tetep nggak bisa. Paginya jadi grumpy :(


Hmmm ....

Selalu ya, setiap saya mulai menyadari kalau ini adalah masalah, mulai deh saya gelisah banyakin baca macem-macem artikelself-help, namatin ulang bacaan saya berbulan-bulan belakangan ini, The Circle (malah makin puyeng), maraton serial Black Mirror-nya Netflix (kayaknya ini deh pangkal masalahnya, wkwkwk). Nggak membantu sama sekaliii.

Kesimpulan pertama: banyakin baca Al-Qur’an sampai ke makna yang sebenernya, deh, Nad. Oh it’s sounds easy, but not really, but I’ll keep trying Insha Allah. *Mama saya biasanya baca blog ini, nih. Ehem ...
Kesimpulan dua: pastilah ini karena saya terlalu banyak punya waktu luang. Stamina single bertemu dengan badan yang malas gerak. Deadly, wahahaha.

Atau ... kesimpulan ketiga (mulailah saya sotoy menganalisasi asupan gizi saya): oh, iya sih saya kebanyakan karbohidrat dan gula. Bahkan sampai malam pun saya masih ngunyah makanan manis. Yang artinya metabolisme saya masih terus aktif sampai larut malam, pantesan pikiran saya aktif wandering out nggak jelas menolak lelap. Ok, I got it. Saya akan mencoba disiplin ngurangin karbohidrat dan gula di kala malam. Gula dari buah (fruktosa) juga termasuk ya, namanya tetep gula.

 ...

Sampai guliran jempol ini akhirnya berpapasan artikel di blog Mamak Suri, the one and only, Mba Dee Lestari.Tersebutlah trilogi artikel “Menulis Sehat” yang sebenarnya nggak 100% related dengan masalah susah tidur saya tadi. Namun ntah kenapa tulisan bagian ke-3 yang saya baca itu sejak awal terasa begitu menyegarkan untuk saya.

Ibarat komputer yang sesekali perlu di-defrag agar kembali optimal, dan ibarat hunian yang sesekali perlu di-declutter agar kembali lapang, batin kita pun membutuhkan proses bersih-bersih. Meski bukan seorang penulis ataupun pekerja kreatif, dan tanpa perlu menjadi terapis ataupun spiritualis, berikut ini saya pilihkan beberapa keterampilan yang cukup praktis dan sederhana untuk dilakukan oleh siapa pun. Apa pun profesi Anda.


Jadi mungkin masalah tidur saya tadi ada hubungannya dengan ini, kurangnya ruang lapang di kepala. Aka, “Banyak pikiran, nih,” Kebayang kalau teman saya si Awe sampai baca, kalimat tadi pasti langsung diucapkannya sekadar untuk membuat saya kesal -_-

Ok, balik lagi ke artikel Mba Dee (yang sebenarnya bisa langsung kamu buka di sini), keterampilan praktis bin sederhana yang disarankan pertama kali adalah meditasi. Jangan tanya lagi manfaat meditasi, terlalu banyak terlalu mulia untuk disangkal.

Right.

Saya nggak punya waktu, ah. Sekalian sholat aja, lah. Nggak sanggup ngeluangin waktu dan uang untuk ikutan retret khusus meditasi. Huft. Kira-kira begitu ya pikiran spontan saya. Namun setelah baca lagi sampai tuntas, merembet ke baca artikel-artikel prekuelnya, maaan, I think I do really need to make some space in my head.

Ya, menurut pengalaman Mba Dee, cara terbaik merasakan perubahan dan manfaat meditasi tadi adalah dengan mengikuti retret. Kehadiran seorang guru atau pemandu akan sangat membantu meditator pemula. Cara terbaik kedua adalah dengan memanfaatkan apa yang sudah kita punya sekarang: smartphone dan internet! Coba deh install aplikasi seperti Headspace atau Calm. Lakukan rutin 10-20 menit saja setiap hari, hasilnya berbeda pada setiap orang pastinya.

Sebagai manusia reaktif dan gemar bereksperimen dengan diri sendiri, saya install Headspace, mungkin setelah ini akan coba Calm. Baby steps, Nad, baby steps ... Surprisingly, tampilan muka aplikasi ini nggak seperti bayangan saya yang bakalan serius dan serba zen. Malah kita akan langsung disambut video animasi tentang memulai meditasi. Sederhana.

Selanjutnya, saya yang mudah terpengaruh ini pun terjerumus. Saya mulai mencoba paket dasar 10 hari meditasi, 10 menit setiap harinya. Bukan merem-merem sendiri diiringi musik mendayu ternyata, melainkan hening dipandu sama suara penuh damai dari konsultan meditasi sekaligus founder aplikasi ini, Andy Puddicombe di sana. Lumayan. Setiap hari saya coba secara random sesempatnya saya, kadang pagi sehabis bangun, kadang sebelum tidur, pernah saat siang dan penat sama kerjaan. Bebaaasss. Belum kerasa manfaat drastisnya, tapi mindset saya soal meditasi jadi berubah banget. Bisa ya, dibawa semenyenangkan sekaligus menenangkan gini. Kalau sudah tamat trial 10 hari, kita bisa pakai fitur lainnya dengan syarat harus berlangganan setiap bulannya, Rp189.000,00, dan bisa berhenti saat sudah tidak dibutuhkan. Mahal nggak mahalnya tergantung kebutuhan masing-masing orang, jadi saya sarankan mending coba trial 10 harian itu dulu.

Harus lulus 10 hari superbasic dulu.

Dipilih-dipilih sesuai kebutuhan.

Nah nah nah, my kind of concern.
Saya masih kurang sehari lagi nih dari paket dasar 10 hari saya, rencananya setelah 10 hari saya mau coba fitur lainnya menyasar masalah kesehatan dan harmoni secara spesifik. Misal tersedia paket khusus meditasi untuk penderita kanker, depresi, kepercayaan diri, stress, gelisah, masalah tidur (nah!), dan kehamilan. Ada pula meditasi untuk anak-anak. Ck ck ck, can modern apps be more helpful than this?

Well, manusia cuma bisa berusaha, coba-coba dan nyerocos di blog begini. Sisanya ditentukan dengan itikad untuk konsisten dan izin Allah SWT *apa sih, Nadddd, get a grip! Hahaha.

Segitu dulu untuk hari ini, pelampiasan curhat di blog sudah saya tunaikan juga akhirnyaaa. Dan saya rasa saya akan semakin berbunga-bunga kalau ada yang mau memberi saran lainnya. Terima kasih sudah berkunjung ke sini :)


Love & light,

Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…