Skip to main content

Editor's Life / The Messenger

Bekerja di dunia penerbitan membuat saya sangat sering mendengar ungkapan, ”Kalau penulis itu raja, maka editor adalah dewa.” It makes so much sense for me. Dalam kondisi tertentu, setiap penulis harus menghormati pendapat editornya, begitu juga sebaliknya, demi kebaikan bersama.

Ok, editor dewa, penulis adalah raja ya, got it.

Nah. Kalau saya, mungkin lebih memilih analogi editor sebagai “Perantara”. Bukan karena gimana-gimana, saya lebih nyaman saja merasa di posisi itu, posisi perantara penulis untuk menyebarkan gagasannya dalam medium buku. Perantara perasaan pembaca, sedekat mungkin supaya bisa klop dengan apa yang disampaikan penulis. Mana jadi “dewa” kesannya berat, luhung, ah saya belum sampai di posisi itu, masih jauh kalau harus menengok editor senior seperti Mba Mirna Yulistianty (editor senior Gramedia), Mba Windy Ariestanty (mantan CEO Gagas Media, editor senior), atau Mas Imam Risdiyanto (editor senior Bentang, pemred saya sendiri).

Dengan menjadi “perantara” tadi, saya berharap bisa live up the name. Saya sih inginnya terus menemukan, menyambut, menghubungkan penulis dengan pihak-pihak strategis supaya membantu mewujudkan ide-ide apapun itu, dan bergerak bersama mengenalkan buku itu ke pembaca. Tak ada yang harus merasa lebih tinggi dari yang satu, it’s a partnership. Kompromi sudahlah dan akan selalu jadi makanan sehari-hari.

Empat tahun terasa seperti sekedipan mata. Cepet bangettt, nggak kerasa April mendatang sudah 4 tahun saya berada di dunia penerbitan. Saya sering mengernyit kalau ingat di awal saya sangat kagok, dunia majalah yang tempat saya berkarya sebelumnya punya flow yang berbeda, dunia penerbitan adalah rimba lainnya. Saya belajar dari bawah, benar-benar bersusah-susah dahulu. Dalam proses pembelajaran tadi, beberapa kali saya mengacau, membuat rugi, membuat teman-teman terpaksa ikut belajar dari kesalahan yang saya lakukan. Huhuhu... sedih? Iya banget, beberapa kali pengin bilang, "I've had enough, I wanna quit..." Apalagi sampai sekarang saya masih menyimpan memori sedih saat saya mengecewakan penulis-penulis yang sudah bekerja sama dengan saya, maaf sepertinya sudah nggak relevan diutarakan terus-terusan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya berani meyakinkan diri saya untuk bertahan —saya menyebutnya sebagai momen kebangkitan klasik, saat saya memutuskan untuk berjalan lagi, mengasah diri lebih keras supaya bisa lebih berkembang.

Apa yang saya lakukan sekarang?

Kilas balik selama setahun kemarin, saya merasa semakin menikmati pekerjaan saya. Saya menangani sejumlah buku yang tak cuma bagus tapi sudah dalam tahap mengubah hidup (setidaknya, pada hidup saya). Itu lah risikonya memiliki karakter mudah terpengaruh, hehe, jadi sangat mudah ya terinspirasi oleh ide dalam buku. Sebagai editor nonfiksi dengan pangsa pembaca muda (18-35 tahun), buku-buku yang saya bantu kelahirannya semuanya punya korelasi nyata dengan kehidupan saya, dan semuanya bermutu tinggi —I’m not just bragging, that’s just the truth. 


Beberapa buku yang saya tangani pada 2016, masih banyak yang belum terfoto. Ahh, sistem arsip yang ambyar di perpus kantor saya memang kadang bikin buku lebih sulit ditemukan daripada di toko buku, hihihi.

 Buku yang mengubah hidup banyak jiwa, termasuk editornya sendiri.

I had a great time working with her, Mba Sophie itu superhumble, perfeksionis, tapi masih mau mendengar saran dari saya. Rasanya terberkati sekali.

Tak perlu banyak cingcong, buku The Naked Traveler 7 dan penulisnya sudah menunjukkan taringnya. Best travelogue made by an Indonesian ever!


Saya SELALU bersyukur dengan kesempatan untuk bekerja sama dengan para penulis yang tak hanya berbakat, tapi juga baik budinya luar dan dalam. Ini yang saya sebut dengan rezeki berlimpah, semoga bisa terus menjadi perantara mereka ke pembacanya, dan semoga saya bisa terus bertemu dengan penulis (((ber-poison))) lainnya dengan segala keunikan, bakat, dan karakter.

Mungkin salah seorang di antaranya adalah kamu, wahhhaaaiii pembaca blog yang budiman? :)



Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…