Skip to main content

Event / Daluang Clutch Bag Making x Brother Indonesia


Semakin sering ikutan segala bentuk workshop, saya semakin sadar kalau saya bukan orang yang naturally gifted atau langsung jago saat melakukan sesuatu pada kali pertama. Lah, seperti layaknya orang, kan? So why are you make that such a big deal, my dear self? Hahaha, ya nggak apa-apa, dengan menyadari hal itu ada kalanya bisa bikin saya lebih rendah hati. Well, nggak ada yang bisa disombongin juga, sih :p

Sabtu lalu (4/2), saya berkesempatan ikut dalam sebuah rangkaian workshop yang digagas oleh Kriya Indonesia didukung oleh Brother Indonesia dan Pesona Jogja Homestay. Harus saya akui acara ini melebihi ekspektasi saya. Saya yang sudah melihat poster acara ini sempat berpikir acara ini bentuknya bakal seperti demo membuat clutch bag, diselingi dengan penjelasan mengenai daluang itu sendiri. Ternyata, workshop ini beneran workshop, yang sangat mengharuskan semua pesertanya turun tangan, pegang langsung, hands on. Panik dong saya, panikkk. Kan saya nggak bisa jahit sama sekali, terakhir kali saya pegang mesin jahit jadul merek “kupu-kupu” adalah saat umur 8 tahun, sisanya saya cuma dibekali skill jahit jelujur sisa pelajaran PKK saat SMP.

*tarik napas*

Ternyata nggak seserem itu kok, acara dimulai pukul 9.00 pagi itu dimulai dengan santai: sarapan, cipika-cipiki sesama peserta dan pihak penyelenggara. Lalu, mulailah Mba Astri Damayanti (crafter dan co-founder Kriya Indonesia), Mak Tanti Amelia (seniman doodle, edukator) dan Prof. Ishamu Sakamoto (ahli daluang). Masuk ke bagian seputar dunia daluang, bahasan jadi semakin membuka pikiran. Daluang yang sekilas terlihat seperti kertas papirus ini ternyata sangat bernilai jual tinggi (selembar daluang berukuran 90x70 cm harganya bisa mencapai Rp350.000, lho). Ternyata proses pembuatan daluang itu sendiri juga lumayan ribet, bahannya berasal dari kulit pohon mulberry harus diproses dalam tujuh tahapan yang harus diselesaikan dalam sehari saja. Fakta miris, sekaligus alasan mengapa Kriya Indonesia menggagas workshop ini ke berbagai kota, adalah karena daluang (—deluang, dalam bahasa Jawa) ini sedang terancam punah. Persebarannya di nusantara sendiri mulai berkurang, tinggal daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jogja, Bali, Lombok, dan Kalimantan yang masih mengenalnya. Sementara, di Hawai dan Jepang, kain ini tetap semangat dilestarikan sama para ahli. Nah, saya yang dari Lombok aja baru mendengar nama kain ini kemarin saat workshop .... :(

*buang napas*

Mba Astri, Mak Tanti, dan Sakamoto Sensei

Setelah puas bertanya dan dijawab langsung oleh , kami mulai belajar dasar-dasar menggunakan mesin jahit GS2700 dengan 27 pola jahitan (whattt) yang disediakan sama tim Brother Indonesia. Menjahit clutch bag sederhana seharusnya tidak sulit, menurut mereka. Tetap ajaaa, saya merasa terintimidasi, jadi  berani liat dari jauh dulu aja. Mba Astri aja gemezzz karena saya kesannya kayak kagok  gitu sama mesin jahit, hahaha, untung nggak lama saya berani deh pegang mesinnya. Terus jadi malah ... keasyikaaaan! AAAAAA! Weeerrr ... werrr ... mesinnya canggih dan didorong gitu aja udah bisa bikin hasil yang rapi. Nggak usah keringetan gimana, jari megal-megol buat sekadar ngurusin jaitan yang lurus, semuanya berjalan smooth ... wussshhh. Kecanggihan teknologi dan harga emang nggak bisa bohong, membantu sekali. Fixed, mesin jahit itu masuk ke daftar keinganan saya!


Sayangnya urusan ternyata aku nggak bakat dan nggak sabaran ya, yang bikin saya beberapa kali  merombak apa yang sudah dijahit. Bongkar-jahit-setrika-jahit, huh haaah, trus bisa selesai dengan perjuangan selama dua setengah jam. Alhamdulillaaah!
 
Foto oleh Tim Kriya Indonesia

Udah kaku-kaku ya tangan saya, tegang takut gagal, hahaha. Makanya setelahnya kami digiring untuk melemaskan jari di sesi doodling bersama Mak Tanti. Kala itu bukan pertemuan pertama saya dengan Mba Tanti sih,  tapi itu kali pertama saya disadarkan kalau Mak Tanti memang sangat pro di bidang doodling, terutama sebagai pengajar untuk anak-anak. Saya suka prinsip beliau yang teramat membebaskan kami mencorat-coret, nggak ada karya yang jelek baginya. Semringah, bisa rileks banget karena duduknya lesehan di salah satu ruang santai yang tersedia di Pesona Jogja Homestay. Sesi menggambar gambar doddle town —yang jadi ciri khas di tiap workshop Mak Tanti, juga kami jalani dengan sukacita. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan bentrok sama sesi kedua (kloter lainnya yang mulai workshop siang jam 13.00), kami nggak sempat menggambar di atas daluang clutch bag bikinan kami. Eh, tapi tanpa digambarin sebeneranya clutch bag-nya udah memikat juga hasilnya lebih alami dan sederhana.

Mak Tanti yang semangatnya tingkat dewa, nular ke kami

Hasil doodle town + clutch buatan saya yang nggak sempurna.

Di luar drama saya yang kagok sama mesin jahit tadi, I had so much fun that day. Nggak kapok juga kalau disuruh jahit-menjahit dan gambar-menggambar sesuatu. Saya juga akan punya kesan yang beda saat melihat kain daluang dalam bentuk yang beragam, oh it's such a  precious natural fabric :’)

Terima kasih untuk semua mentor dan pihak yang sudah mendukung, we had so much fun!

Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…