Skip to main content

Everything Else / A Bunch of Bullshit Reasons

WOWZAAA kita bertemu lagi oh dear blog dan penghuninyaaa!

Kali ini saya menulis tulisan edisi poin suka-suka berdasarkan  pengalaman saya yang tega membiarkan blog kosong selama hampir 3 bulan ini—jadi diterima saja ya, pretty please.

And you guys are very welcome to add something. Monggo. Silakan boleh menambahkan kalau merasa senasib dengan saya.

1. Ada media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, Path, Snapchat, Ask.fm, Periscope, Bigo, you name it.

Buat saya, distraksi media sosial ini menjadi semenjak ditambahkannya fitur instagram stories di Instagram. Setiap harinya, seharian menelusur timeline instagram saja seolah tak ada habisnya, selalu saja ada akun dan tagar seru yang ingin diamati. This is alarming, I know. Makanya saya kurangi … Dang ding dong … Dua bulan lalu meluncurlah instagram stories, fitur yang membuat saya semakin terlena. Rasanya jadi mudah menceritakan hal-hal remeh temeh dalam bentuk foto/video, sekali pencet, hempas, toh akan hilang 24 jam kemudian seperti di Snapchat. Dan karena sudah laporan di instagram stories, dianggap sudah cukup. Menulis di blog jadi terasa seperti membutuhkan energi berkali-kali lipat oh beratnya. Duh instagram, nasibmu dijadikan kambing hitam melulu.

2. Terlalu banyak nonton serial televisi.

 Beruntung bagi yang mengikuti serial TV Amerika dan Inggris dengan sistem ‘ketengan’ (bukan maraton yaaa), karena serial dari negara-negara itu punya musim sendiri (September-Mei). Ada jeda untuk bernapas di tiap minggunya, ada liburan natal dan tahun baru. Naas, bagi mereka penggemar drama drama Korea, karena drama-dramanya nggak kenal musim Allahuakbarrr, tiap minggu merilis 2 episode pula, membius! Terutama bagi orang seperti saya yang kalau udah penasaran harus benar-benar diselesaikan, benar-benar harus selektif memilih tontonan supaya nggak terhanyut/terjerumus sia-sia. Hahaha. Apasih, this is superpointless-total garbage excuse, Nad! X)

3. Banyak pekerjaan lain.

Hahaha, ini sih alasan paling sering dan paling cocok dipakai. Distraksi seperti ini selalu menang. Bagaimanapun saya sehari-harinya sudah banyak menulis … (Are you sure? emm pretty much yesss), jadi lelahnya kalau harus menyelesaikan tulisan untuk blog. Ah ini sih harus belajar dari teman-teman Komunitas Emak Blogger yang disiplinnya tingkat dewa itu, mereka mengagumkan luar dalam!

4. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Tidak ada kelas baru. Tidak ada hal-hal layak review. Well, nggak sepenuhnya benar, kecuali kamu termasuk orang yang hanya bercerita tentang hal-hal aktual dengan standard keseruan tertentu di kehidupanmu. Kalau nggak ada yang terjadi atau terjadi tanpa melewati standardmu, ya nggak ada ditulis. Padahal ada yang bilang kalau menulis juga bisa dari hal-hal sederhana, ditulis secara rutin, ditulis untuk dirimu sendiri dan orang lain karena suatu hari itu akan berguna.

5. Malas menyelesaikan tulisan, itu saja.

Saya punya 5 draft tulisan yang buntung belum dijahit bagian akhirnya, alasannya? Mungkin karena saya pikir bisa dibuat lebih keren. Mungkin, alasannya sesederhana karena satu kata: malas. Period.

Kalau sudah begini, tinggal menggetok kepala sendiri. “Eh, gimana mau maju?”
.

So this is my first move, tulisan tentang hal-hal yang membuat saya menelantarkanmu wahai blog. Semoga bisa dibaca berulang-ulang, supaya ingat. Supaya bisa kembali menulis lagi.

Ah, ah. :)


Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…