Skip to main content

Self-Love / How Well You Treat Yourself?

Last few weeks was brutal for me, all those kind of PMS, moodswing and stuff ...  ugh rasanya kepala ini mau meledak. Kalau menurut saya, ya biasalah masalah hormon alien yang datang bulanan, berbaur dengan faktor lain-lainnya, berkonspirasi memperburuk keadaan. Saya sampai harus mengungsi pulang sebentar ke Bali & Lombok. Syukurlah, perjalanan pulang selalu menyenangkan.

Hawa rumah yang selalu menyenangkan, menenangkan :)


Saya juga sadar kalau hampir sebulan lebih membuat blog saya terbengkalai, tak terisi dan terurus. Mana janji manismu Nadiaaa, Meinya sudah hampir habis, nih.

Makanya untuk comeback kali ini rasanya pengin menulis yang cheesy-cheesy dulu aja. Pecah telur dulu untuk bulan Mei. Emm ...

Where do I begin?

Oh.

Well .... Saya termasuk golongan yang percaya kalau kita berhak menghadiahi diri sendiri secara rutin. Kita layak menghadiahi diri ini dengan apapun itu—tak harus dengan membeli barang yang diimpi-impikan that cost you big money. Ya, tak harus juga mengusung motif sebagai seorang  single, atau istri, atau ibu dari 1-2-3 anak, atau menjelang ulang tahun kita, atau saat ada hal-hal baik terjadi di pekerjaan,atau habis dapat untung yang besar dari bisnis, tak harus ada alasannya. How will you treat yourself?

Mungkin dengan menghubungi teman lama yang pengiiin sekali kamu dengar kabarnya.
Mungkin keluar bareng teman makan es krim. Ya es krim. Gelato. Sorbet. You name it. Salah satu aktivitas yang nggak pernah gagal menaikkan mood!
Berkenalan dengan seseorang yang baru, yang mungkin berpapasan saat sama-sama mengamati lukisan di galeri asik di pinggiran kota.
Mungkin dengan membersihkan kamar. Ganti seprai. Buang alat make up yang sudah lama. Berikan diri sendiri jeda dari situasi kamar yang berantakan.
Berburu atau meramu sendiri makanan yang sekiranya akan membuat lidah dan perutmu puasss. Kalau masalah ini saya biasanya nggak pakai pantangan, pakainya prinsip "sesekali boleh, yang penting nggak berlebihan" jadi hayuuuk lah kalau menyenangkan diri dengan makanan!
 Jalan kaki di sebuah perkampungan/komplek perumahan yang bukan merupakan area tinggalmu, pandangi tipikal rumah-rumahdan lingkungannya. Please don’t take this the wrong way, maksud saya bukan mau ngajarin memata-matai (amit-amit), jadi mungkin pilihlah kawasan yang ditinggali teman atau kerabatmu. Jadi ada alasan kan, jalan-jalan di sekitarnya? Hehe.
Menjabani konser musik yang sudah kamu nanti-nantikan sejak lama. Syukur-syukur kalau bisa duduk atau menelusup sampai ke baris terdepan. Rasanya ekstatik!
Mampir dan menonton sirkus yang kebetulan mampir di kotamu.
Berlatih yoga. Bermeditasi. Bernapas dengan sadar. Setidaknya yoga menjadi satu-satunya bentuk aktifitas fisik yang saya tolerir selain jalan kaki. For those of you who already love to exercise or play for a team, kudos! I'm glad you've found a way to make being active fun. Please keep doing it.  
Enjoying an extended snuggle with your love ones, or maybe with a pillow (ooo poor me) on the bed after a hard day at work. Sambil menonton serial televisi atau film favoritmu. Ah ... This would do.
... or simply by letting yourself sleep waaaaay in on Saturday and then waking up and reading a book for pleasure? Menamatkan buku yang sudah kamu tangguhkan berbulan-bulan karena alasan sibuk. Ah. Sounds like heaven.

Oh my precious <3
Yoga suits me best
Salah satu galeri favorit saya, Sangkring Art Space di Nitiprayan, Yogyakarta
Ice Cream Date never fails me!
Makanan favorit saya yang sangat "seimbang" HAHA
Definisi memanjakan diri versi Nadia
Alternatif buat mengisi weekend dengan retreat santai dan GRATIS
Agenda retreat di atas

Dengan kata lain: You can make a reward out of anything.

Dan saya paling senang mendengar cerita dari mereka yang melakukan hal-hal seru bukan untuk orang lain, melainkan untuk menyenangkan diri mereka sendiri setelah melalui serangkaian hari dan waktu yang sulit.

So I want to ask you, guys: How will you treat yourself? 



Love and light,

Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…