Skip to main content

Balanced Living / Yellow Tumeric Milk

Wihiii! Seminggu berlalu kayak sekedip, tiba-tiba udah masuk ke bulan ke-3 di tahun ini. March on!

Ingat kan minggu lalu saya bercerita tentang kelas Sarapan Sehat bersama Bu Janti @alterjiwo yang super menyenangkan itu? Kali ini saya coba salah satu resep yang disarankan. Resep yang aslinya bernama Golden Turmeric Milk, tapi ternyata karena hasil racikan saya kurang nge- "gold" saya ganti saja judul kali ini jadi Yellow Turmeric Milk.

Resepnya segampang berhitung 123 dan bahan-bahannya bisa jadi sudah nongkrong lama di lemari/kulkas kita sekalian. Coba intip yuk minuman berlemak (baik), anti flu, dan depresi karena sejuta manfaat kunyit dan jahe, yang sudah jadi resep merawat diri di berbagai belahan dunia sejak jaman pendudukan Portugis di Maluku *uopooo tho Nad, Nad.Rasanya gurih, manis, dan efeknya bagus banget untuk bikin rileks.

Bahan:

  • Susu kelapa (aka santan, bisa juga buat sendiri dari kelapa tua diparut, dicampur air, diblender, dan diperas sarinya). Kalau kepepet waktu kayak saya kemarin, bisa pakai santan yang dijual di supermarket, dari semua yang paling dipercaya kualitasnya adalah "Klatu" (bukan promosi ampun ampun). Susu kelapa juga bisa diganti dengan susu kedelai, atau susu nabati lainnya.
  • Kunyit, diparut
  • Jahe, diparut
  • Gula batu/madu, usahakan bukan gula pasir atau refined sugar, ya ;)  
 
Cara membuat:

  • Jerang semua bahan dalam panci, aduk rata.
  • Masukkan gula batu/madu
  • Setelah warna berubah menguning, saring dan sajikan hangat.  



Paling baik diminum di kala pagi, sehabis stretching atau yoga. Atau kapanpun kamu merasa badan terasa semriwing butuh kehangatan.


Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…