Skip to main content

Editor's Life / The Art of Thrifting



Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti coat, cardigan, celana gaya 80an, sampai tas di flea market/vintage market/preloved bazaar/awul-awul.

 

Hobi ini ditularkan oleh Mama saya, way back then ketika beliau baru menemukan surga berupa pasar baju bekas di dekat kediaman kami di Lombok sana. Awalnya saya yang masih SMA itu merasa risih, tapi begitu diajak langsung sama Mama dan melihat beliau yang sangat terampil memilah “emas” di antara tumpukan berdebu dan apek itu, saya ikut tergerak dan mencoba. Saya pun menemukan blus yang sudah lama saya incar, mirip seperti yang dipakai seleb di majalah. Selanjutnya, saya dapat jaket dan celana hampir seperti baru kondisinya. Wuihhh, saya ketagihan. Maklum, kami di sana, sering tidak punya banyak pilihan untuk pakaian dengan bahan berkualitas dan tidak norak. Ya, terlepas dari berbagai kontra tentang fetish mengubek-ubek pasar loak, saya dan Mama puas dengan temuan kami. Kenapa cuma saya dan Mama, karena kedua adik perempuan saya yang lain tidak begitu suka melakukannya. Atau kalau kata mereka, mereka nggak berbakat mencari. Bakatnya adalah ketika pakai yang sudah direndam dalam cairan antiseptik, dicuci, diberi pewangi, dan digosok rapi. Hhhhhh >:| >:|

Eits ... satu lagi yang nggak terbantahkan adalah sensasinya itu ... bukan hanya karena bisa mendapatkan 3-4 potong baju unik hanya dengan Rp50.000,00, tapi juga lantaran ada kepuasaan tersendiri yang susah dijelaskan. Nggak selalu sukses dapat yang diincar, tapi justru di situ seninya.

Beranjak ke sini, saya baru ngeh kalau aktivitas yang Mama dan saya lakukan itu punya istilah tersendiri. Yang di luar negeri sana, biasa disebut thrifting. Well ... kalau menurut urban dictionary, thrifting berarti sebuah kegiatan mencari barang bekas, baik di toko barang bekas (thrift shop), toko vintage (vintage store), maupun pasar loak (flea market), dengan tujuan untuk membeli barang bekas yang unik dan dengan harga yang murah.

Then guess what, ternyata dalam beberapa tahun terakhir ini koleksi vintage atau secondhand atau preloved tadi ternyata malah semakin diminati! Saya yang semasa kuliah di Jogja tahunya cuma lapak-lapak di sekitar jalan Parangtritis dan sebelah barat Jalan Malioboro, kini dibuat berbinar-binar dengan makin seringnya melihat toko-toko online, butik recycle offline (yang sangat bersih), preloved pop-up bazaar bermunculan menawarkan barang-barang bekas yang mereka kurasi sendiri (dijual dengan harga yang lebih mahal, tentunya). Excited sekaligus gemes gemes gemes. Karena bermacam parka, jaket, sampai pernik interior unik yang one-of-a-kind itu sebenarnya bisa saja diburu sendiri.

Kemudian saya mengenal Nazura Gulfira atau yang akrab disapa Ozu. Saat suatu hari saya saya sedang blogwalking dan menemukan blognya, blognya benar-benar menyegarkan mata dan jiwa. Kebanyakan yang dia tulis merupakan hal-hal personal, perjalanan-perjalanan yang dia lakukan, hobi, dan hal-hal ringan. Satu lagi yang membuat kami sepaham, dia hobi thrifting juga!!! Meski ia berkesempatan thrifting di Eropa dan Jepang, sementara saya masih di sebatas di kawasan Indonesia aja, but that's okay. It's still a YAYYY! Seperti menemukan saudara jauh rasanya :')

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengiriminya email dan mengajaknya ngobrol, ujung-ujungnya saya mengajaknya bergabung ke sebuah project iseng. Kami bahkan sempat (((kopi darat))), waktu itu saya sedang ke Jakarta, dan Ozu (yang saat itu masih tinggal di Jakarta) sedang punya waktu, kami yang sebelumnya hanya berinteraksi via email, line, dan instagram akhirnya bisa tahu gimana pribadi masing-masing dalam versi tatap muka. Hihihi.

Nadia dan Nazura
Saat ini, Ozu baru saja tiba di Rotterdam dan akan melanjutkan pendidikan S3-nya di sana sampai 4 tahun ke depan. Namun sebelum pergi, saya sudah lebih dulu menodongnya untuk mewujudkan project kami. It's a Thrift Journal everyone! Platform yang dipakai adalah instagram. Beberapa pertimbangan melatarbelakangi, tapi satu yang kami tahu, niat baik harus segera disegerakan.

Jadilah, Thrift Journal menjadi sebuah project gagasan Nazura Gulfira (dikompori oleh saya) yang dibuat lantaran kecintaan terhadap dunia thrifting yang teramat sangat. Di sana secara bertahap kami akan memberi informasi dan catatan seputar thrifting dan istilah-istilah lainnya: flea market, secondhand stuff, car boot sale, charity shop. Kami juga akan memberi tip mencari, hingga referensi dan tempat-tempat yang asik untuk mencoba peruntunganmu dalam thrifting.

thrift.journal on Instagram

Kalau kamu ingin ikut berbagi tempat andalanmu saat thrifting atau nunjukkin barang temuan kebanggaanmu (clothes, home decor stuff, cassette/CD/vinyl, bags, shoes, all kind of accessories, etc.), berbagi tip mencari, sampai cara membersihkan dan merawat barang-barang itu agar selalu terlihat apik dan pantas ... oh dear, please feel free to visit us, tag your post, and poke us there.


*

*

*Photo by Nazura Gulfira

Akhir cerita, terima kasih telah membaca paparan yang sedemikian panjang ini, dan semoga kalian di luar sana berkenan berinteraksi dengan kami di instagram @thrift.journal. We'll see you there!


Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…