Skip to main content

Balanced Living / Homemade Cookies





Tahun 2016, saya mencanangkan akan ikut kelas untuk melatih life skill. Minimal satu kelas dalam satu bulan. Alhamdulillah, tengah Januari saya berkesempatan ikut kelas membuat cookies lewat workshop #LearnmeLoveme yang diselenggarakan @eatmeloveme sebuah foodie artisan yang lagi naik daun di Jogja.

Saya adalah penggemar berat cookies! Berat berat berat! Dulu saya bisa beli goodtime (eits, sebut merek buat contoh gapapa ya :p) hampir setiap hari. Standard saya ya itu, cookies pabrikan. Nggak ada yang salah dengan itu, terjamin higienis kok tulisannya. Hanya aja, setelah saya coba rasa cookies rumahan yang baru selesai dipanggang. Rasanya seperti surga, and I won't go back.

Saya jadi punya cita-cita baru, kalau anak-anak saya kelak, akan lebih sering dibekali makanan dan kue yang dibuat sendiri sama ibunya. Sesekali boleh jajan, tapi mereka sudah punya standard tinggi, kalo buatan ibu mereka di rumah lebih surgawi. Hihi... Aamiin aamiin *calon suami mana calon suami*

Dan ternyata bikin cookies itu gampang pake bangettt *Oh My God, kemana aja, Nadddd*

Daripada kelamaan ngelantur, yuk kita simak segimana gampangnya membuat cookies surgawi. Resep dari Talitha "Titha" Azalia @eatmeloveme.

Let's go!

Alat:
  • Oven dan loyang
  • Mixer
  • Timbangan
  • Spatula
  • Ayakan tepung (ayakan? Seriously? Haha, pokoknya itulah)

Bahan:

  • Mentega 126gr (bisa disesuaikan dengan idealisme dan stok di rumah, vegan butter would be delightful!)
  • Gula palem 180gr (gula palem dipilih karena menghasilkan rasa yang lebih yummy, tekstur yang bagus, dan tidak terlalu manis. Sangat tidak disarankan menggunakan gula pasir, hasilnya akan keras dan terlalu manis)
  • Tepung 310gr (bisa gunakan tepung ketela, tekstur sedikit lebih lembut, tapi lezatnya rasanya nggak jauh berbeda)
  • Telur 2 kuning 1 putih
  • Baking soda 1tsp
  • Essence (vanila/almond) 2tsp
  • Muesli, oat, dan cokelat untuk campurannya.

Cara membuat:

  • Campur gula palem dan mentega dengan mixer, speed yang paling slow, sampai warna berubah jadi cokelat muda
  • Siapkan tepung yang sudah diayak, tambahkan baking soda
  • Masukkan telur ke adonan. Mixing kurang dari 1 menit.
  • Campurkan tepung ke dalam adonan, aduk rata. Aduknya seperti mencangkul. Biar adonan gembur dan banyak udara. Hihi.
  • Campurkan dengan toping yang kamu suka, cokelat, oat, muesli, green tea. Pastikan tercampur dengan sempurna.
  • Cetak di loyang yang sudah diolesi mentega dan dilapis kertas minyak. Bentuk cookis dengan lebar dan ketebalan sesuai selera. Ada yang suka yang crunchy, ada yang suka chewy. Bebasss. Selama konsisten untuk satu loyang, biar nanti matangnya rata.
  • Masukkan loyang-loyal berisi cookie ke dalam oven. Panggang kurang lebih 20 menit, tiap 5 menit, tukar posisi loyang yang di bagian atas dan bawah. Sesekali cek apakah bagian tengah sudah matang dengan pas.
  • Angkat, dan diamkan cookies dalam suhu kamar sekitar 10 menit. Matang darat, kalo nama prosesnya sih.


Hasil karya kami, looks good yaaa~


*Untuk 30 keping cookies berdiameter 5 cm

Sekali buat bisa untuk stok beberapa minggu. Simpan dalam toples kedap udara, bisa tahan sampai sebulan lho.

Selamat mencoba!
xoxo,
Nadia

Saya dipaksa berpose dengan cookies, I look weird!

The Cookie Squad + Guru Titha!


 ...
Artikel ini juga dapat ditemui di blog www.nonirosliyani.com dengan tag  “Selasa Sehat”  ya.. Sampai jumpa di sana :)

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…