Skip to main content

Music / Monita Tahalea: Datang Bersama Dandelion dan Pelangi


Mendengarkan sealbum Dandelion (2015) itu seperti duduk di pinggir kebun dandelion dengan kucuran sinar mentari yang pas (dan duduknya di pinggiran aja, nggak perlu di tengah-tengah kebun juga :p). Teduh, hangat, dan menyembuhkan. Selanjutnya saya akan mengulas album ini dengan lebih lebay dari biasanya. Hmmm kemungkinan karena pagi tadi saya (sekali lagi) habis menerima kabar kurang menyenangkan, menjurus mengecewakan. Tentang apa? Biarlah hanya keluarga dan teman-teman terdekat saja yang tahu. Pokoknya semua rencana dan khayalan sirna sudah. Menghilang, menguap, wushhh!

Saat tulisan ini dibuat, saya belum bisa menangis kencang-sekencangnya untuk meluapkan emosi. Mungkin saya belum 100% ngeh, mungkin masih shock. Yang ada sekarang saya masih bego banget, salahnya di mana, apa mungkin ini dan itu ya... Ah, sudahlah, kalau kata Mama saya: belum rejeki namanya... Mungkin saya bisa nangisnya  baru nanti malam.

Bingo bango bla bla bla ...

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli album ini di iTunes, setelah mendengar cuplikan tiap lagu-lagu di dalamnya puluhan kali sejak dua hari terakhir. Dan karena saya nggak cukup sabar kalau harus menunggu CD fisiknya dirilis Januari nanti, jadi ya... kegiatan purchasing dilaksanakan hari ini saja. BANZAI!

Done purchasing this lovely album, iyeyyy!


Sejak awal saya langsung disapa "Hai" sebuah pembuka yang menjalankan tugasnya dengan terlalu baik. Senyum mulai mengembang, rasanya sedang dii-pukpuk seorang teman baik. Selanjutnya, saya reuni dengan lagu kebangsaan buat para gadis bingung dan pengembara, ini lah "168" si lagu favorit yang sudah saya dinanti rilisannya sejak pertama mendengar Monita membawakannya di Ngayogjazz 2013. Benarlah setelah dilahap, sensasinya tidak melenceng dari ekspektasi. Asli musiknya jadi semakin manis, manis! Lalu ada "Bisu" yang tiba-tiba melejit lagu favorit saya, belum bisa menjabarkan kenapanya, tapi langsung ini sungguh bertenaga. Liriknya nampar, terutama buat kita yang pasif-agresif, diem doang tapi kesel... hehehe. Ya, pastinya musiknya yang menghantui, petikan gitar si GeSit (Gerarld Situmorang) ini cakep punya. Sukaaa!

Kejutan hadir dari "Tak Sendiri" (masih) karena kerasa cocok sama kondisi saya sekarang *halah. Menurut saya, lagu ini lebih rohaniah/religius/begitulah, lebih seperti dialog dan ucapan syukur kepada Tuhan yang selalu ada buat kita. Gini nih penggalan liriknya: Aku kembali, tersenyum, menari, dan bernyanyi. Karena ku tahu ku tak sendiri, cintaMu selalu bersemi,  hadirMu selalu di sini, kasihMu selalu di hati. Ada lagi "I'll Be Fine" yang kira-kira pesannya miripramah di hati dan telinga.

Allah knows best. Allah knows best. Allah knows best.

*terus hening*

Yak yak yak dan pastinya ada "Memulai Kembali" single yang pertama dilepas Monita dari album ini. Setelah mendengarkannya, semuanya tak lagi sama. Bersyukur, itu saja yang tertinggal di kepala saya. Tuh kan, air mata jadi netes waktu ngetik kalimat barusan. Tuhan Maha Baik ngasih inspirasi ke makhluknya buat bikin formula penyembuh seperti ini... 

Saya jadi membatin, ini sealbum cocok biangettt buat momen pagi-pagi setelah bangun habis nangis semaleman. Hihihi ...


Monita Tahalea & The Nightingales - Memulai Kembali, Jazz Gunung 2014

#MemulaiKembaliVC Hangat, tenang, dan bikin kangen rumah di Lombok :)

Terima kasih dan selamat untuk Monita, atas penantian yang terbayar, 5 tahun yang menyenangkan setelah album pertama Dream, Hope, Faith (2010), sampai kini kami bisa menikmati album ini. Salut untuk Gerald Situmorang, gitaris berbakat, bassist sangar, produser sekaligus composer album ini. Sepertinya, musik yang baik memang lahir dari mereka jatuh cinta sama musik untuk kesekian kalinya, over and over again. *nah tuh sotoy lagi, tau dari manaaa?

Semoga review di atas bisa membuat kalian yang kebetulan lewat penasaran, dan dengan previewnya di iTunes atau Youtube, dan beli albumnya, dan nonton langsung kalau Monita lagi ditanggap di kotamu. IYAYYY JADI SEMANGAT LAGIII!



Update 23 November 2016

Alhamdulillah, akhirnya setelah 2 kali Monita manggung di Jogja tahun ini, dan dua-duanya saya malah sedang di luar kota atau bentrok sama acara penulis ... Saya berhasil menuntaskan kangen di Ngayogjazz, 19 November 2016 lalu. 
AAAAAA SO HAPPY I COULD BURST <3
Bisu - Monita Tahalea


Love & light,
Nadia

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…