Skip to main content

Balanced Living / Growing Cities Club

Kemarin saya mampir ke acara selamatan Kebun Komunitas RT02, Dusun Jenengan, Maguwoharjo, yang diinisiasi Kedai Rasayana. Selamatan ini semakin berkesan karena dilanjut dengan pemutaran film dokumenter Growing Cities + diskusi bareng Bu Janti @alterjiwo (yang punya lahan dan inisiatif), Pak Slamet @petanibertato, Pak Kun, Mas Rudi, dan teman-teman lain yang sudah antusias datang.

Logika nggak jalan tanpa logistik, maka sebelum nonton saya dengan lahap mamam tiwul beserta lauk pauk dan aneka sayuran dari #sekolahpagesangan juga minum bir mataram dan secang racikan @kebunkitajogja. Alhamdulillah, enak banget, sampe mau nangis.


Gambar diambil dari instagram @KedaiRasayana

How was the movie? Well, the movie was great and really edible!

Ceritanya ada dua anak muda asal Omaha, Nebraska, bernama Dan Susman dan Andrew Monbouquette melakukan perjalanan darat keliling Amerika Serikat mencari jawaban atas segala pertanyaan (tsah...). Mereka yang memang punya latar belakang sekolah tentang ketahanan pangan ini, berinteraksi dengan pegiat dan komunitas urban farming yang tak lain adalah para pejuang sumber makanan berkualitas di kota mereka masing-masing! Petualangan mereka dari Omaha-LA-SF-Portland-Detroit-(some cities I forgot the details)-New York-DC-Austin hingga kembali dari ke Omaha, membawa banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik.

(((dipetik)))

Huehehehe ... Saya yang awam dengan istilah urban farming dan printilannya sekalipun tetap dibuat terkesan. Apalagi melihat tipe lahan, komposisi penduduk, dan kendala masing-masing di tiap kota, masih saja tak menyurutkan tekad mereka untuk terus menanam dan menyediakan bahan makanan segar. Jangan keluhkan masalah ketersediaan lahan, ada banyak sekali sebenarnya tanah-tahan bahkan bangunan tak terpakai yang bisa digunakan. Asal bisa paham sama aturan, nego pemerintah setempat, dan pemilik tanah, mereka bisa! Bahkan dari jendela apartemen atau atap gedung di kota sepadat New York pun bisa ditumbuhi sayuran enak! Oh that was really amazing and they said it's simply because they can, they want to do it, and everyone needs healthy and affordable food sources. Cara mereka mengumpulkan kompos via taksi kompos pun bikin geleng-geleng, niat tenan! Rawkz sekali!!! Film ini ditutup dengan Dan dan Andrew yang menanam sayuran di bagian belakang mobil bak mereka, yang bahkan bisa tumbuh dan dipanen! See, you sure can grow food anywhere, hah, hah.
 
 Trailer Growing Cities (2012)


Biarlah saya dikata Amerika-sentris banget, tapi ya emang baru mereka yang jago mengemas perkembangan #GrowingCities jadi semenarik itu. Namun sebenarnya, film ini dibuat untuk pesan yang universal.

Dari diskusi seru bareng para pegiat urban farming Jogja dan sekitar, saya jadi sadar kondisi masyarakat dan kota-kota di Indonesia nggak berbeda dari Amerika sana. Kendala yang dihadapi juga sebenarnya dihadapi oleh kita yang katanya gemar ripah loh jinawi tapi penduduknya masih kelaparan, gizi buruk, dan obesitas di mana-mana. Kalau kata Bu Janti, idealnya kita memang bisa menanam sendiri, merawat, melihat sendiri bahan-bahan itu tumbuh, memanen, dan mengonsumsinya. Untuk saya si bujangan tak bertanah dan tak berproperti ini, hal semacam itu seperti angan-angan yang disimpan buat hari tua. Huhuhu ... susah banget, ya. Kan nggak semua orang passionate bertanam seperti itu. Namun akhirnya saya dibuat ngeh kalau sebenernya pesan dari film ini sederhana, it's as simple as to know where your food comes from. 

Paling tidak sekarang saya harus mulai bijak memilih apa yang masuk ke badan ini. Jangan asal enak, asal gratis (:p), asal gampang, lantas puas. Belajar penasaran dari mana makanan yang tersaji ini berasal, bahan-bahannya dari mana? Kalau diimpor dari jauh, sejauh apa? Dikirim ke sini dikemasnya bagaimana? Ah, ribetttt amat sih, tapi semoga bisa melangkah kecil-kecil. Kalau kata Mba Citra dari Kedai Rasayana, "Boleh kok ikut ngolah kebun di sini, belajar aja bareng-bareng," aaaa Mba Citra you're so sweet. Bismillah, saya kapan-kapan dateng dan ikutan nanem/elus-elus sayuran.

Semangat!

For the love of good food,
Nadia.

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…