Skip to main content

Balanced Living / Seni Beres-Beres yang Mengubah Hidup

Salah dua buku yang paling berpengaruh untuk saya akhir-akhir ini adalah Green for Life (Victoria Boutenko) dan The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering* and Organizing (Marie Kondo). Buku-buku nonfiksi yang sangat pop, favorit saya banget, lah. Kalau kata Mas Wisnu, dosen saya di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM dulu, nge-pop di sini bisa dimaknai sebagai sesuatu yang mudah menyentuh hati karena akrab, merupakan bagian dari keseharian kita, dan terasa baik dan berguna.


*decluttering = anti menimbun barang 


Green for Life mengubah hidup saya dengan "penemuan" smoothie hijau yang benar-benar berharga itu. Saya menuliskan pengalaman menyenangkan dan resep smoothie hijau versi saya, di sini. Hope you'll find it useful enough.

Then, The Life-Changing Magic of Tidying Up was another story. Buku ini menjadi world wide best-selling book, dan berhasil menyebarkan metode KonMari (sebutan untuk metode buatan Marie). Menjadikan Marie salah satu dari 100 The Most Influential People-nya majalah TIME. Sebelumnya saya udah sering mendengar reviewnya dari CEO saya di Bentang, Mas Salman Faridi, Marie Kondo ini sudah jadi top of mind dalam dunia organizing. Wuihhh, saya pikir nih Marie pasti semacam ibu-ibu Jepang dengan OCD untuk hal-hal mengenai kerapian, clean-neat-freak yang tipikal, blablabla.

Ternyata ... ya, emang begitu sih si Marie, emang passionate mengorganisasi segala sesuatu sesuai kategori. Saya juga agak kaget, Marie ternyata masih muda dan kinyis-kinyis, kawaiii! *nggak penting kalau ini*. Apalagi setelah baca bukunya, saya tahu kalau dari kecil Marie lebih memilih untuk merapikan mainan dan  printilan di sekolahnya, dibanding keluar bermain di halaman bareng teman. Zzz .... Namun, justru passion ini yang menggerakkan Marie untuk menekuni bidang yang nggak disangka-sangka bisa jadi jenis profesi baru, yaitu ... *drumroll* it's an organizing consultant! Nah tuh, ada-ada aja ya profesi kreatif dan unik begini.

Perhaps enough about Marie. Kalau bukunya, saya belum menemukan versi terjemahan bahasa Indonesianya, soon, semoga segera ada. Namun, beruntung banget karena saya nemu buku ini Bookmate (dan masih berlabel "free"). Yippiyay! Mulailah saya menekuni buku ini dengan harapan yang sederhana, hidup saya bisa lebih terorganisir. Better, lighter, neater. Titik. Sampai ke hidup segala, Nad ... well, di buku ini saya belajar kalau suasana tempat kamu tinggal somehow bisa benar-benar berpengaruh pada badan dan pikiran.

Saya belajar bagaimana metode "KonMari" yang dijabarkan Marie di bukunya ternyata sangat mendasar, tapi kita sendiri yang masih abai dengan segala organizing stuff. Kepo dong, saya ngecek instagram Marie, dan menemukan hasgtag #KonMariMethod #sparkjoy, di mana banyak banget orang-orang yang terpengaruh Marie, berbagi pengalaman mereka.

Marie Kondo dan #KonMariMethod

Menurut Marie, prinsip beres-beres a la KonMari itu sebenernya sederhana. Ini tentang prinsip tidying up berdasarkan kategorisasi dan memaksimalkan penggunaan storage. Semua ini tentang proses, nggak ada yang instan, bertahap tapi menyeluruh. Setelah berhasil mengelompokkan semua barang berdasarkan kategorinya, bukan berdasarkan lokasi benda itu, seperti yang  selama ini biasanya kita lakukan.

Nggak ada tuh beda individu beda perlakuannya. Prinsipnya sama saja dan berlaku untuk semua orang. Semacam kalau kita punya barang baru, maka harus ada tempat menyimpan, untuk itu kadang kita harus mengurangi barang yang sudah ada, dan sudah tidak terpakai. Satu masuk, satu keluar. Dan semuanya harus berada pada tempat yang tepat, dengan kategori yang benar.

Seperti biasa, saya yang mudah terpengaruh ini tertohok. Rasanya saya pengin segera membereskan hal-hal kecil, terdekat, di sekitar saya. Sekarang juga.

Mostly my take on this book are more about organizing my life in general... It's all about:
  • De-clutter & re-organize your online history and stuff: image history, email, old "not you anymore" blog post, random account. Bersih-bersih, bersih-bersih! Ini yang paling gampang, karena bisa dilakukan sambil kerja sekalipun. Membereskan email dari spam dan promo feeds yang ngabis-ngabisin memori. Baru-baru ini saya mulai getol membereskan track record saya di internet, terutama "kenangan" lama yang sudah tidak relevan lagi. Berlaku juga untuk memori dalam smartphone, laptop, dan pc juga.
  • De-clutter & organize your working desk, your room, your house. Pelan-pelan, pelan-pelan. Kalau bagian yang ini sih saya akui sangat berat. Terutama buat kita yang berbakat penimbun (hoarder). Apa-apa disayang-sayang, dibuang sayang, disimpan tapi ujung-ujungnya nggak dipakai juga.
  • De-clutter your mind. Rapikan memori di otak, dengan merelakan hal-hal yang sudah tidak relevan untuk masuk ke recycle bin. Namun simpan memento yang sudah dikurasi, untuk waktu yang tak terduga, just in case. Caranya? Saya sendiri masih belajar, saya mencoba merapikan pikiran setiap pagi dengan meditasi singkat. Setiap habis sholat Subuh, 15 menit saja (pakai timer biasanya) memfokuskan diri pada napas. Tarik dan keluarkan udara dari hidung, sadari proses itu. Sederhana ya, tapi menyenangkan sekali efek setelahnya.
  •  
But still, it's nice to let yourself free a bit. Meski enak banget habis bebersih, buang-buang segala macem, sesekali enak juga kalau ngebiarin beberapa hal berantakan tanpa terburu-buru buat ngerapihinnya. Hehe, pokoknya saya penganut prinsip, lakuin aja segala hal yang saya suka, yang penting nggak kelewat freak aja.

Saya masih baca bukunya, jadi belum bisa membagi metode KonMari yang lebih praktikal. Huahhh, doakan saya bisa segera menulis bagian selanjutnya. AAMIIN!


Love & light,
Nadia


Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…