Skip to main content

Life Tricks / OOTD Background Hacks

Ahem.

Bermula dari beberapa teman pernah bertanya di mana saja lokasi foto yang sering mereka lihat di instagram saya (uhuk, sekalian promosi, diikuti ya kalau suka :p). Saya selalu menjawab jujur sedikit ngawang, “Itu di tembok di jalanan komplek, dalam perjalanan berangkat ke/pulang dari kantor.” Ooo... trus siapa yang fotoin? “Ya nggak ada lah, pake namanya teknologi bernama self-timer, cari sandaran yang tegak dan kuat, soal angle belakangan, dapat sandaran yang steady buat naroh hape aja udah syukur."

Karena itulah kali ini saya menyempatkan diri mereview tembok-tembok kesayangan yang sering saya manfaatkan, yang semuanya telah memenuhi kriteria saya yang pemalas dan pemalu ini (nggak mungkin saya repot foto ke studio dan difotoin orang, hiii ngebayanginnya aja udah geli duluan); permukaan luas, warna menarik, lingkungan sekitar relatif sepi pada jam-jam tertentu, dan pastinya ada sandaran untuk hape bata saya. Iya, saya pakainya smartphone biasa, dan nggak punya (dan nggak bisa pakai) kamera beneran sih. Lagian pasti ribet lah, kalaubawa kamera segeda gaban nanti nggak bisa curi-curi foto sembarangan. Ya sudah langsung aja direview tembok-temboknya, Nad. Ok ok.


Here we go ...

#1 Tembok peach/pink/salem/krem (tergantung pencahayaan)

Sekitar 50 meter dari kos saya di Jalan Irian, tepatnya di sebuah jalan tikus antara kebun pepaya kuning dan kos putra. Kebayang saya yang kagok karena kepergok lagi pose depan depan tembok. Tengsin cyin .... Untungnya jalan ini hanya dilewati sama pejalan kaki dan pesepeda (dan sesekali pengendara motor yang nekadszzz). Tempat meletakkan kamera hp pun difasiitasi (ooh tentu kita punya monopod tancap aka pipa paralon), meski jadinya cuma tampak ½ badan. Hasilnya ... foto minimalis a la sampul majalah Kinfolk ini pun siap dilempar ke pasaran. Fixed, tembok ini adalah favorit saya selama-lamanya!

Lokasi tembok peach favorit, di depannya ada si monopod built-in
Si monopod tancap



#2 Tembok hitam abstrak + sulur-sulur

Ini yang agak lebih hardcore, selain karena di jalan umum (di salah satu percabangan Jalan Kalimantan) yang semua orang bisa lalu lalang pake apapun itu, juga karena langsung berseberangan dengan kos putra. Untuk menyiasati supaya saya bisa foto dengan aman dan selamat tanpa kepergok, saya sengaja berangkat ke kantor lebih pagi. Setelah jam 7 lah, lebih dikit. Untuk sandaran kamera hape tentunya ada pagar rumah orang yang cukup bagus angle-nya. Lumayan ye ... kalau pakai tembok ini fotonya bisa sebadan penuh, bonus sulur-sulur pula.

Lokasi tembok hitam abstark dan tempat hape bersandar
Pagar tempat hape saya bersandar
Hasil foto a la-a la


#3 Tembok biru

Terletak di sebelah Masjid Nurul Hidayah Purwosari, tembok biru ini segar banget kalau udah dikasih filter #VSCO, hihihi. Kekurangannya temboknya nggak mulus 100% masih ada garis seperti tembok rumah kebanyakan, bukan latar belakang foto studio (dipikir???). Namun saya selalu maklum, namanya juga tembok rumah orang tak dikenal. Dan ternyata justru itu yang membuat tembok ini lebih cocok untuk foto produk ketimbang #ootd.





#4 Tembok merah

Terletak di salah satu percabangan Jalan Sulawesi. Tembok merah ini cocok untuk #ootd dan foto produk. Efek tembok yang luasss ini bikin hasilnya jadi ciamik dan ada kesan rustic a la-a la begitulah. Kekurangannya ada di lalu lintas mereka yang hilir mudik, paling sering ada tukang sayur dan anak-anak kos. Kalau kepergok, makin lama saya makin tebal muka, pura-pura bego aja dan lanjut jalan.

Tembok merah polosan no-filter
Hasil setelah difilter #vsco, lumayan lah



#5 Gerbang besar peach karatan

Nah, ini dia gerbang super gede yang cocok untuk foto seluruh badan. Sedikit deg-degan, karena tiap foto dekat-dekat gerbang ini ada suara anjing gonggong cari perhatian, potensial mendatangkan perhatian warga sekitar komplek perumahan mini itu. Saking seringnya kepergok di jalan yang juga adalah salah satu percabangan Jalan Sulawesi ini, saya udah nggak punya image classy lagi. Pada taunya, “Itu si mbak yang suka lewat dan taruh handphone di pagar rumah orang”. Hakdesss!





Sebenarnya masih ada lagi tembok-tembok yang tidak sengaja saya temukan dalam perjalanan ke kantor. Saking banyaknya saya sampai lupa tempatnya di mana aja. Dan di balik semua cerita di atas, hikmah yang terkandung sangatlah mulia. Untung banget ya saya pejalan kaki, jadi mata ini awas banget tiap liat tembok photogenic. Hihi, coba deh kalau saya naik motor, pasti nanti mencolok banget ... kok ada motor parkir nggak jauh dari si anak yang lagi #ootd-an ini? *siapa juga yang bakal peduli Naaaad!*  Kalau jalan kaki kan kesannya kasual, innocent, explorer gimana gitu, jadi pas kepergok tinggal lanjut jalan lagi, pura-pura bego dan tinggal senyum sama yang mergokin. Hidup pejalan kaki! Muahahahaha.


Love & light,
Nadia


Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…