Skip to main content

Balanced Living / 7 Days of Green Smoothies Therapy


Sejak h+3 lebaran kemarin, saya dan keluarga mulai secara rutin mengonsumsi smoothie hijau atau green smoothies. Hehe, sebenarnya ini merupakan perwujudan atau efek membaca Green for Life karya Victoria Boutenko di akhir tahun 2014 dan seketika terpana dengan pengalaman yang ia tulis di sana. Apa yang saya tulis di sini, sebagian besar terinspirasi dari buku itu. Jika ingin tahu lebih jauh, buku ini tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia, lho. Saking inspiratifnya isi buku ini, saya sendiri berencana membeli lagi 3 eksemplar, masing-masing untuk ibu saya, ibu kos, dan seorang sahabat.

Green for Life yang life-changing itu

Smoothie hijau atau green smoothie ini memang berbeda dengan jus biasa. Smoothie lebih bertekstur, karena bahan utamanya adalah sayuran berdaun (mis: bayam, caisim, kale, pakcoy, daun wortel, parsley, seledri, brokoli, dll) dan tidak disaring sama sekali, ooo yikes! Namun rasa langu dari sayuran hijau teredam dengan campuran buah segar pengendali  rasa (mis: pepaya, stroberi, nanas, pisang, dll).

Quick story behind it ... Ramuan ini *ceilah ramuan* ditemukan oleh seorang pegiat raw food bernama Victoria Boutenko. Victoria telah mencoba berbagai opsi makanan mentah untuk menyelamatkan diri dan keluarganya yang sakit-sakitan, it was like ‘there is no other way, you change to a better, healtier lifestyle or die’. Wihhh... lebay ya, tapi ya memang begitu keadaan keluarga Boutenko saat itu. Thankfully, beberapa percobaan (terhadap diri sendiri dan keluarganya) dan penelitiannya berhasil, dan telah dibukukan dan jadi world wide best-selling books. Meski begitu, setelah enam tahun mengonsumsi murni makanan mentah, kondisi kesehatan keluarganya mulai mengalami degradasi.

Lho? Apa yang salah?

Ternyata, makanan mentah yang selama ini mereka makan tidak cukup memenuhi kebutuhan utama mereka. Umbi-umbian, salad dengan mayones dan saus yang lezat, ternyata jika dikonsumsi terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa pendamping yang cukup, malah akan menimbulkan efek kebalikan pada tubuh. Victoria pun mencari informasi baru, sampai akhirnya ia mendalami tentang diet simpanse. Simpanse, hewan yang paling mirip dengan manusia ini ternyata tidak hanya makan buah. Lebih dari 50% dietnya terdiri dari sayuran berdaun hijau, bunga, dan biji. Sementara untuk manusia, makanan seperti itu sangat sulit dimakan mentah-mentah dan dalam dosis besar setiap hari. Victoria yang sebelumnya hampir putus asa menemukan cara untuk bisa makan sayuran berdaun hijau tanpa mengolahnya dengan minyak atau margarin, menemukan bahwa membuat smoothie dengan sayuran hijau sangat lezat jika dicampur dengan buah. It’s refreshing! Bahkan tanpa gula dan pemanis buatan sekalipun.

Smoothie hijau yang halus meringankan kerja lambung, juga memastikan asam langgung berada pada kadar yang pas. Manfaat dari klorofil yang terdapat dalam sayuran hijau mampu melawat radikal bebas dan sel-sel jahat dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah membantu membersihkan usus, melancarkan pencernaan secara alami, dan menyuplai stok serat, sehingga tak ada lagi sembelit dan kulit kusam.

Ok, ini benar-benar penemuan yang berharga.


Saya, yang paling susah mengunyah tomat dan kemangi di lalapan pun tergiur dengan ide smoothie hijau ini. Dengan takaran yang tepat, saya setiap harinya bisa menghabiskan 1 liter smoothie hijau, dan tersenyum puas setelah tegukan terakhir. Yummm!

Dari pengalaman meminum ramuan ini lebih dari sebulan, saya punya resep terfavorit setelah percobaan dan berbagai zonk yang dialami sejauh ini. Kalau masih pemula dan takut minum sayur giling ini, tambahkan buah lebih banyak lagi.


Hari pertama:
Happineaple!
Blend sampai halus:
3 baby pakcoy
1 nanas madu
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter

Hari ke-2:
Ten Fingers
Blend sampai halus:
½ ikat bayam merah
10 pisang emas
½ jeruk, ambil airnya
2 gelas air dan es batu sesuai selera
Untuk 1 liter


Hari ke-3
Popeye The Sailor Man
Blend sampai halus:
1 ikat bayam
½ pepaya california
10 stroberi
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Hari ke-4:
Heavenly Parsley
Blend sampai halus:
1 ikat parsley (bisa diganti dengan peterseli atau kemangi)
½ pepaya hawai
½ jeruk
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-5:
Minty Snow White
Blend sampai halus:
1 gelas daging sirsak, buang bijinya
30 daun mint
½ jeruk nipis, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter

Hari ke-6:
Purple Sky
Blend sampai halus:
7 terong belanda, kupas kulitnya
2 tomat
2 pisang
¼ pepaya
½ ikat bayam mera
10 daun mint
2 gelas air dan es batu sesuai seler
Untuk 1,5 liter

Hari ke-7
Bronana
Blend sampai halus:
1 bonggol brokoli
3 pisang cavendish
½ lemon, ambil airnya
2 gelas air dan es batu secukupnya
Untuk 1 liter


Catatan tambahan:
    • Smoothie hijau sangat cocok diminum saat pagi hari, sebelum ada makanan lain masuk ke tubuh.  Smoothie ini bukan pengganti makanan, kita bisa makan apa saja seperti biasa setelah satu-dua jam mengonsumsi smoothie.
    • Smoothie hijau yang baru di-blend sebaiknya langsung diminum untuk mendapatkan manfaat terbaiknya. Namun, smoothie hijau sebenarnya bisa disimpan sampai tiga hari di kulkas, jadi bisa diminum selama bepergian.
    • Rotasi sayuran hijau. Selain membuat kita tak mudah bosan pada sayuran yang sama setiap harinya, juga untuk menghindari tumpukan alkaloid dari tanaman yang sama.
    • Supaya hasil blend-nya halus, dan nggak nyusahin si blender, letakkan buah di susunan paling bawah, lanjut ke sayuran di bagian atas.
    • Setelah seminggu minum smoothie hijau, kita mungkin akan mengalami gejala detoksifikasi sepertinya munculnya jerawat, pusing, atau buang air lebih dari 3 kali dalam sehari (bukan diare). Itu bisa jadi hal yang baik, dan selama tidak mengganggu, silakan lanjutkan rutinitas minum smoothie hijaumu.
    • Tip untuk anak kos seperti saya, belilah blender, ini adalah sebuah investasi yang baik. Dan kalau susah mendapatkan es batu, saya biasanya membeli es jeruk tawar di warung makan (terpercaya) di depan kos setiap harinya. Gampang, ya?

    Sekian cerita smoothie hijau dari saya. Kalau ada yang tertarik, selamat mencoba, ya! Dan kalau bertahan lebih dari seminggu dan merasakan manfaatnya, mungkin kamu bisa melanjutkannya sampai hari ke-30 dan seterusnya.

    Bagi pengalaman dan resep kesukaanmu di sini, ya. Selamat mencoba!



    Love & light,
    Nadia

    Popular posts from this blog

    Useful Apps / Jenius

    I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

    Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

    Everything Else / Klub Kolase

    Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

    Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


    Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

    Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

    Cara membuat:
    Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

    Editor's Life / The Art of Thrifting

    Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

    Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…