Skip to main content

Personal / Surviving First Week


Hampir seminggu menetap di rumah, saya masih merasa seperti liburan. Kecuali, bagian waktu mama menyodori daftar lowongan pekerjaan di sekitar sini. Hihi... gerah juga kali ya melihat anaknya ini cuma leha-leha di rumah :p

Sure, on one hand, it feels awesome! (for me, maybe at first). On the other hand, ‘nothing to do’ job is always be a nightmare or taboo story to tell for my parents. Ya... bingung aja kalau ditanyain, anaknya sekarang kerja apa. Hmmm...

Saya juga tidak berpangku tangan saja, percayalah, saya juga punya rencana-rencana yang akan dikejar. Hanya untuk seminggu-dua minggu ini saya masih ingin beradaptasi. Merasa memiliki lagi kamar lama saya, mencoba lari pagi setiap hari, dan membujuk adik laki-laki saya sampai deal mau memakai kawat gigi. Hihi... remeh-temeh tapi menyenangkan.

Mataram. Masih seperti dulu, kecuali bagian duo franchise  mini market,  Indomaret dan Alfamart yang sudah tersedia sampai di pelosok sekalipun. Lainnya, saya menikmati setiap sudut kota yang ramah ini dengan rute yang itu-itu saja. Dan tempat yang paling menyenangkan tentu saja di rumah. Saya malas memikirkan berat badan saya sudah naik berapa kilo, and I don’t really care bout that, I mean it. Makan gratis sepuasnya yoohooyaabaayaabaadoo!

Adik perempuan saya, Fira, dan sepupu, Amna adalah ‘teman main’ yang sangat nggegemesin sekaligus ngeselin. Saya bertugas mengajari mereka bahasa Inggris dan menggambar, mereka harus bersedia jadi eksperimen saya: didandani dan difoto-foto =)) Ya, sebentar lagi saya akan mengajak mereka bikin video dance cover “Fantastic Baby”-nya Bigbang. Hahahahahahaha. Oh Nadia darling guess you'll never grow up....

I do know if I want new excitement, I have only one option, I can create 'the fun supply'. Like these... hihihi... 






Woo Woo Woo

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…