Skip to main content

Personal / Season of Farewell

For the last three months, there was something strong, maybe even magical, about my mind. This head getting weirder and making random lists of what I want from my mid-age life. And I was like... woaw... "How do I suppose to start?"

Dan munculah kejutan (yang sebenarnya nggak begitu mengejutkan sih, pada akhirnya) saya memutuskan keluar dari sekolah kedua. Selalu terkesan berlebihan, tapi menulis untuk majalah favorit sekaligus objek penelitian skripsi itu... benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan. Berada di bawah pengarahan langsung orang-orang terbaik. Bekerja dengan tim yang profesional, tapi sudah seperti keluarga, dan menjadi kebiasaan bertengkar karena hal-hal absurd.

Uhumm, dan pekerjaan saya... menulis artikel, ikut mengusulkan cover story. It was... yep, cool... hehe. Satu lagi, meliput konser-konser band/penyanyi mancanegara itu sangat menyenangkan! Bertemu dengan mereka yang bahkan cuma saya lihat di artikel-artikel di internet. Bertanya bagaimana musik dan fans membawa mereka ke Indonesia. Melihat bagaimana mereka tersanjung dengan perlakuan media kita yang terlampau semangat menyambut. Hihi... dasar Indonesia :p

Mungkin semua orang yang pernah bertanya tidak pernah betul-betul ngeh sama keputusan saya si manusia bingungan ini. Is that really what I want? Well, we don't know that yet. Saya pernah merasa sangat percaya diri. Sudah waktunya saya 'lulus' dari tempat ini. Bukannya tanpa ragu. Saya juga pernah merasa sangat gusar, menangis sebelum tidur, mengeluh, dan bahkan takut kalau sampai saya menyesali ini. Tapi tahukah kalau Dia membuat saya yakin dengan berbagai caranya. Saya cuma tahu, ada sesuatu yang harus saya bereskan di rumah. Sesuatu yang memanggil setelah saya meninggalkannya  hampir tujuh tahun ini.

"Kamu mau pindah ke mana?" Sepertinya jadi pertanyaan favorit teman-teman saya. "Nggak di Jakarta lagi, memang di Mataram mau kerja apa?" Waktu saya bilang saya akan pindah, kembali ke kota tempat saya dibesarkan.

Hmmm... di sebuah kota yang tidak menyediakan bioskop (karena memang tidak bisa hidup lama di sana). Nantinya saya mungkin akan terlihat bekerja untuk pekerjaan yang tidak 'sekeren' sewaktu di Gogirl!, Tapi saya percaya, saya bisa memutuskan sesuatu yang baik untuk hidup saya selanjutnya. Rencana selanjutnya sepertinya baka sedikit muluk-muluk. Saya mau umroh bareng mama, berlibur mengeksplor keindahan alam di Lombok, bekerja di Bali, Surabaya, atau kota yang belum pernah saya tinggali sebelumnya, dan bertemu orang-orang spesial lain yang bisa disebut keluarga baru. Siapa yang bisa menebak? Semoga bisa jadi yang terbaik =)

"This what I believe to be true... You have to do everything you can, you have to work your hardest, and if you do, if you stay positive, you have a shot of silver lining." - Pat Solitano, Silver Linings Playbook (2012).

Dan kalau sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Mungkin ada jalan lain masih terbuka.

Untuk keluarga Gogirl! saya, terandom, terdrama, terunyu... kalian bakal aku kangenin banget banget.

It’s gonna be really sad not seeing everybody, seeing their faces everyday...

Thank you, thank you, and thank you... It's been an incredible ride for almost two years. I have to bid farewell. I'm sorry for everything. Good luck in the future you guys.. Goodbye until we met again.


Woo Woo Woo

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…