Skip to main content

Everything Else / Bye Bye Multilply

Sebenarnya saya bermaksud membuat sebuah tulisan persembahan untuk 'rumah' lama saya, Multiply. Kabarnya, situs yang dulunya mengambil sebagian fokus saya itu, akan ditutup dalam waktu yang nggak lama lagi. Tapi mungkin jadinya bakal cheesy, sesuai tema blog saya di sana dulu. "The House of Cheesy Thing". Lihat saja judul di atas, sudah tidak terselamatkan.

Hahahaha.

Saya sejak awal udah ngerasa kalau saya nggak cocok nulis yang serius-serius, tulisan yang panjang-panjang, apalagi sampai menganalisa masalah politik. Duh, dijamin 500 persen saya bakal ngelantur kemana-mana. Makanya saya pilih tema-tema ringan, ya makanan, ya (sok-sok) fashion, ya acara TV kesukaan, ya musik yang nyantol di kepala. Tapi saya ingat betapa excited-nya waktu ada orang yang membaca tulisan saya, sekaligus deg-degan menunggu mereka mau komentar apa. Padahal ujung-ujungnya komentar yang ada biasanya bakal jadi jauuuuhhh banget sama tema tulisan saya. Epic banget lah, masa-masa awal di Multiply itu.

Selama di Multiply, saya makin lengket dengan teman-teman kampus pemilik lapak di sana. Awe, Mas Jaki, Dwi, Adrian, Cucum, Starin, Dildol, Irham, bahkan dosen kami, Mas Wisnu. Kalau ketemu di kampus, minimal kami punya sedikit bahan dari mengungkit cerita dan gosip di Multiply. Hihi... (Sekali lagi alasannya) Cheesy sih, there was a special bond between all of us, let's say we're Multiply-mates to each other. Masing-masing dari mereka punya gaya menulis yang 'berwarna-warni'. Hampir semuanya saya baca, hmmm, meskipun kadang-kadang saya skip beberapa karena saya pusing baca tulisan yang kelewat panjang.

Sekarang Multiply-mates masing-masing sudah punya sebuah rumah baru, atau lebih. Saya sendiri memilih di sini dan sebuah tumblr. blog untuk menyalurkan apa saja yang malas saya tuliskan di sini. Tulisan-tulisan di Multiply tetap bakal jadi yang paling personal dari semua. Tempat yang paling jujur, mungkin. Dan nggak ada aksi jaga image demi pekerjaan, atau lainnya.

Okay... this time I might be crying. Saya makin nggak rela kalau konten blog di sana dihapus. AAAAAAAAAAA! If there was any other way, saya mau ngusulin gimana kalau konten blog di Multiply di-hide saja. Cuma pemiliknya yang bisa membukanya sewaktu-waktu dia mau. YA TAPI GIMANA CARANYA!
 
BROOOOMM BROOOMMMM

Dan penggusuran tinggal menunggu waktu.


'Buldozer' itu datang adalah di luar kuasa manusia biasa, saya sepertinya harus ikut mengemasi beberapa barang penting di sana. Kalau saya diibaratkan punya toko keju. Pemiliknya ini mungkin akan sempat mengunyah beberapa varian favoritnya sekali lagi, sambil membayangkan kembali bagaimana 'gurihnya' masa kejayaan.




*Ditulis sambil mau nangis (beneran), tapi ditahan karena khawatir teman-teman di kantor berpikir kalau saya patah hati lagi.


Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…