Skip to main content

Personal / Person of The Year 2011*: Pythagora Yuliana

I wonder what life would have been simpler if I never never met her, Pythagora Yuliana Purwanti. A hysteric best friend. Hehehe... A married woman. Soon to be a mother. Aamiin.


Pertemuan pertama saya dengan Pipit mungkin sedikit absurd. Semester satu, tahun 2006. Dia cerewet banget, bahkan saya yang katanya cerewet sekalipun sempat Pipit adalah orang yang mengajak saya mengobrol dalam bahasa Jawa selama hampir setengah jam. Saya cuma diam, sampai akhirnya dia menanyakan darimana saya berasal. Hahahahahaa... kami tertawa panjang setelah itu. Dia kemudian menawarkan makan pempek bersama. Lama kelamaan berani komplain sama kata ganti "saya" yang sebelumnya saya gunakan.

Perempuan yang memiliki kriteria menantu masa depan, "harus Jawa tulen" ini memang selalu menjejali saya dengan ke-Jawa-annya. Sesekali dia rasis pada suku Sasak (ehem, sedikit masalah pribadi sama seseorang dari suku yang sama ya, Pyt? :p). Saya dan Pipit menjadi akrab karena segudang perbedaan, yep, kami sangaaaaattt berbeda. Kata orang-orang satu-satunya persamaan di antara kami cuma dari segi kehebohan bercerita.

Oleh Pipit saya dicekoki bahwa dunia ini kejam. Sekaligus indah, menantang, dan ada mimpi di sana. Pipit adalah juaranya bagian negative thinking, hihi, bukan dalam artian buruk seluruhnya. Dia sebenarnya selalu mengingatkan saya untuk realistis. Ambil kesempatan yang ada, jangan berharap yang neko-neko (macam-macam). Jawa banget pokoknya. Pipit juga mengajari kalau kita nggak boleh berhenti bersyukur, di titik serendah apapun kita berada. Selalu ada yang harus disyukuri, dan pastinya diperjuangkan.

Hidup saya mungkin akan sangat datar tanpa teman-teman yang beragam. Terutama si realistis yang satu itu, yang menyeimbangkan khayalan saya, untuk balik lagi menapak tanah realitas. Sadar woi sadar! Terima kasih. Saya mau kami menjadi sahabat sampai tua, sampai naik, sampai turun, sampai naik lagi. Sampai roda hidup berhenti berputar. Dan kalau misalnya, sekarang kita agak tidak nyambung karena Pipit baru saja menikah dan sibuk bicara soal suami dan hidup berumah tangga. Percayalah beberapa tahun lagi saya bakal nyambung dan menimpali keluhan-keluhannya.

Semoga tahun 2012, saya bisa punya dan sempat menjenguk si ponakan yang sehat dan lucu nanti.


Pipit di tahun 90'an. Haha. Kiddin'!**


*Selengkapnya tentang Person Of The Year, bisa dibaca di sini.
**Ini Pipit setelah di-make over Mba Esia. Foto: Temennya Mba Esia.

Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…