Skip to main content

Personal / Rezim Otoriter Berakhir

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya datang ke sebuah rumah kecil di sebelah barat Masjid Kampus UGM, di Bulaksumur B21. Kedatangan yang awalnya sudah harus saya lakukan sejak tahun 2006, tapi akhirnya malah terealisasi di tahun 2007. Berbekal formulir, CV, dan cengengesan, saya akhirnya diterima dalam bentuk awak magang redaksi. Hasil dari belas kasih Mba Tami dan Mbak Ipeh saya pikir, hehe.

Jadi reporter dengan kemampuan rata-rata dan mencari berita hanya terkesan sebagai formalitas, itu adalah gambaran di tahun pertama saya. Hah... Tahun yang berat karena saya sepertinya belum bertemu dengan 'klik' itu. Kemudian, tahun kedua berjudul tahun redaktur pelaksana menjadi jauh lebih sreg. Bukan hanya karena mungkin pekerjaan yang berbeda, berkutat seputar mengedit, dan bertelisik. Awe dan Mas Jaki adalah peneror sekaligus koordinator Telisik yang sangat ulung (dengan tentunya mengesampingkan kecacatan permanen pada pribadi mereka), saya jadi makin senang karena digelari penulis Telisik terbaik bersama Imel. Weheee... Rasa nyaman makin saya temukan perlahan dengan teman-teman super yang saya sebut sebagai para pendiri "Bulaksumur Gosip". Membuat saya ingin melanjutkan setahun lagi. Setahun lagi yang ternyata harus ditempuh dengan konsekuensi. Konsekuensi yang menyenangkan, anggap saja begitu :)

Kini di akhir, saya sudah bukan Punggawa Umum lagi. Tidak lagi meneror awak-awak media komunitas itu dengan kegiatan otoriter dari saya dan rekan-rekan Dewan Peneror yang lain. Buku Otoriter kami kini akan berhenti terisi oleh rencana-rencana licik setiap minggunya. Susan akan kembali fokus ke dunia kuliah dan proyeknya. Sinta kini tidak lagi akan terbagi waktunya, full time soybean ice cream researcher. Alfi akan kembali fokus memikirkan kuliah dan KP-nya. Tio akan dapat waktu sensus yang tenang. Dan, Beryl adalah tumbal terpilih untuk melanjutkan tugas berat meneror untuk setahun ke depan lagi, selamat berjuang dengan tim baru ya, Berlay!

Satu beban terangkat. Seribu kenangan terekam menyeruak. Dan kerinduan ini semakin menjadi-jadi.

Terima kasih yang terdalam untuk segalanya.
Untuk tempat sempit dengan orang-orang berhati lapang. Dan tentunya tempat dimana tawa renyah yang bisa didapat sedemikian gampang.

Semuanya.


People come, people go. So long, Surat Kabar Mahasiswa Bulaksumur :)




Popular posts from this blog

Useful Apps / Jenius

I am a sucker for the good products. Saya “murah” banget dalam hal memberi rekomendasi kalau sudah mengalami pengalaman menyenangkan dengan jasa atau produk, hihihi. Meski selalu saya tekankan kalau itu berdasarkan pengalaman saya ya, bisa berbeda kalau misal dialami orang lain. Saya usahakan untuk selalu jujur dari lubuk hati terdalam, nggak ada untungnya juga terlalu dibagus-bagusin, saya dibayar sebagai buzzer juga nggak. Eh tapi tapi kali ini saya  khusus memuji sebuah produk perbankan yang menurut saya adalah pelipur lara dari masalah penolakan kartu kredit yang saya ceritakan sebelumnya. Everyone, meet Jenius. Jenius, meet everyone *dadah-dadah*

Pertama kali tahu Jenius itu lantaran saya datang ke acara launching buku Finchickup 2 di Cilandak Townsquare awal Desember 2016 lalu. Booth produk urban keluaran Bank BTPN ini ramai kayak cendol, Jenius crews bertebaran di mana-mana, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk daftar setelah dijelaskan secara garis besarnya. Karena itu eve…

Everything Else / Klub Kolase

Kalau dipikir-dipikir, saya nggak pernah bisa bikin kolase dari kertas-kertas fancy dan baru. Well, sejak kecil saya justru lebih terobsesi dengan kertas majalah bekas, terutama membuat hiasan dari potongan gambar dan kata di dalamnya. Saya suka majalah, terus-terusan membelinya, tapi nggak sampai hati membuang.

Beberapa kali ini saya sering iseng bikin acak-adut stuff seperti beberapa hiasan dinding/collage wall decor dan storage atau wadah multifungsi. Gampang bikinnya, saya juga suka banget sama aktivitas ini. Cuma butuh niat dan sedikit imajinasi. Bahan-bahan seperti kardus, kemasan plastik makanan bekas, majalah, dan lem pun nggak sulit ditemukan.


Yang pertama kita akan membuat: Personalized wall decor!

Lantaran saya sering bingung mencari inspirasi kado yang personalized untuk orang tersayang, but not anymore cause these personalized wall/desk decors is coming to rescue!

Cara membuat:
Potong kardus bekas, buat ukuran yang sama hingga menjadi 2-3 lembar. Lalu tempelkan lembar pot…

Editor's Life / The Art of Thrifting

Saya percaya kalau style itu dibentuk, alih-alih “dibeli”. Kita mungkin bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta untuk one timeless and very rare to find item/stuff. Namun kalau tidak bisa memakainya dengan pembawaan yang pas ... rasanya lebih baik tidak perlu sebegitunya. I mean, just don't go broke trying to look rich or cool.

Saya lebih suka berinvestasi dengan menyimpan merek-merek middle berkualitas, seperti Casio untuk jam tangan, Levi’s untuk jeans, Converse untuk sepatu sehari-hari, Jansport untuk backpack andalan saat bepergian, Uniqlo untuk kemeja, basic blouse, khaki pants, yang akan sering sekali dipakai, H&M untuk sepatu, kaus kaki, sweater, dan scarf. Barang-barang itu kebanyakan umurnya pasti lebih dari 5 tahun dan masih awet dipakai sampai sekarang. Di samping itu, saya lebih suka membeli merek-merek online buatan lokal, terutama untuk sepatu, tas, dan aksesoris lucu seperti patch/emblem. Dan sebagai pelengkap, saya gemar mencari barang-barang unik seperti…