Event / Self-Love Exercise x Hijup x Arisan Resik

Hi, semua! Selamat datang kembali ke blog saya yang sudah lama nggak diurus. Nguinggg ... *Sapaan terstandard tingkat dewa.

Seperti biasa saya mau curhat dikit nih *janji dikit doang, jangan kabur dulu plis, soalnya temanya cukup penting nih, meski klise, tapi penting. Penting, tapi klise. Halah :)))

Sebagai seorang manusia dewasa aka bukan remaja lagi, pernah nggak ngerasain level kepercayaan-dirimu jeblok?
Trus bisa tiba-tiba melesat lagi, jeblok lagi, naik-turun, diaduk-aduk, terombang-ambing seperti saat kita naik wahana Kicir-kicir di Dufan.
Saya sih iya, sering banget malah.

Kalau kepercayaan diri sedang jeblok, itu pertanda kalau saya sedang kesal sama diri saya sendiri. “Kayaknya kok bego banget ya saya”; “Ah, yakin deh pasti saya nggak bisa”; atau paling seringnya saya mikir, “Saya sih pake jelek segala.”

Why did you that to yourself, Nad? It's freaking abusive, you know. BUT WHYYY? I am sure there’s a problem with me. Let’s rewind this a bit. So you’ll get a better understanding of what I’m about to tell you :)

Kenyataannya, dibesarkan dalam keluarga besar dan lingkungan pertemanan—yang tanpa sadar menanamkan keyakinan kalau saya itu buruk secara fisik berulang-ulang, meninggalkan bekas yang cukup susah dihilangkan sampai ke versi dewasa saya ini. Sangat sering kejadian:dengan mudanya level kepedean saya bisa sampai ke titik terendah kalau sudah menyangkut urusan fisik. Tiap foto bareng orang, lebih sering highlight-nya adalah betapa cantiknya, bersinarnya, berderangnya rekan berfoto saya itu, sementara saya (yang di sebelahnya) tampak butek dan ya begitulah ... kurang aesthetically pleasing.

Malu-maluin aja nulis begini di blog, tapi harus saya akui, bahwa komentar seperti itulah yang selalu berhasil bikin saya minder. Padahal saya udah berusaha nih merawat diri, berpakaian yang pantas dan sesuai dengan taste saya, eh masih aja ya diberi komentar begitu. Sigh ... Kalau keresahan seperti ini sudah menyerang, nggak ada deh satupun kata-kata mutiara yang sanggup mengobati. Makanya kalau tiba-tiba ada yang memuji saya, ntah tulus atau tidak ... niscaya bikin saya blingsatan aka salah tingkah nggak santai, sambil berlagak menyangkal pujian itu, "ah masa sih," namanya juga nggak biasa dipuji—padahal aslinya saya girang setengah mati.

Akan tetapi, nggak selamanya cerita saya dengan urusan kepercayaan diri berjalan memble begitu. Ada masa-masa yang bisa bikin pede naik, misalnya karena hal-hal di di luar urusan fisik tadi: kala saya nggak bermaksud ngelawak tapi malah dianggep lucu; atau ketika ada yang mengikuti rekomendasi saya; atau saat saya diterima di dalam suatu kelompok, bisa bebas berekspesi, dan diapresiasi di sana ... langsung deh level kecintaan terhadap diri sendiri naik secara drastis.

Oh wait a sec. Berarti ... kepercayaan/kecintaan/penghargaan saya terhadap diri sendiri semua tergantung oleh pendapat orang lain dong? Saya nggak bisa menghargai diri sendiri tanpa validasi dari pihak lain gitu? Hmmm .... Coba Nad dipikir lagi. Sumber kepercayaan/kecintaan/penghargaan terhadap dirimu nggak sustainable dong? ... Hmmm. *Lalu mikir dalem sampe trus pusing gitu terus sampai kiamat x)

Sekarang ini, saya sudah sangat "mendingan"dan positif lho sama diri sendiri. Setiap hari saya jadikan ajang latihan untuk mengasah apa yang disebut: self-love, self-respect, self-care, self-appreciation, or something like that—that suppose to make you positive, sebaik mungkin. Inginnya bahagia itu sebagian besar bersumber dari diri saya, untuk diri saya. Syukur-syukur kalau masih diberi umur dan kesempatan, serbuk bahagia itu bisa saya ciprati untuk berkontribusi pada keluarga dan orang lain di luar sana. Saking getolnya berkutat sama urusan ini, saya bisa melahap buku-buku tentang self-love banyak sekali, dan saya sedang berusaha mempelajari tema-tema semacam tadi untuk dibuatkan atau diterjemahkan menjadi buku-buku. Semoga nanti bisa membantu saya dan orang lain yang juga membutuhkan penguatan/dukungan.

Please, cukup curhatnya, buruan gih masuk ke inti cerita *Lupa kan tadi janjinya bakal curhat dikit aja -_________-

All right .... all right ....

Jadi begini. Suatu kehormatan, bahwa Sabtu lalu, 25 November 2017, saya bisa hadir ke acara salah satu muslim fashion marketplace tersohor Indonesia ... yeah you’re right, it’s HIJUP! Kami berkumpul dalam edisi #HijupMeetupYogyakarta #HIJUPevent #HIJUPbloggersmeetup #HIJUPMeetupYogyakarta. Tersanjung 6 deh karena saya termasuk salah seorang dari 25 bloggers yang diundang oleh Hijup yang sudah jadi kesayangan saya untuk urusan fashion.

Rasaya-rasanya senang banget, saya anggap event semacam ini bisa jadi latihan menjajal kemampuan saya bertahan dengan lingkungan ramai yang terbilang baru. Alam pun seakan merestui, hujan yang sedari kemarinnya nggak berhenti, tiba-tiba mereda satu jam sebelum acara dimulai. Nggak ada alasan saya buat mangkir dari janji, maka dengan begitu saya jadi berangkat ke venue di Greenhost Hotel, Prawirotaman.


Hampers lucu berisi scarf dan Resik

Sejak awal melihat poster dan bintang tamu acara ini, saya sudah bisa menduga acara ini akan membahas apa saja. Benar saja, hadir Nina Septiani (Influencer, enterpreneur, Miss World Muslimah 2012) Si Bumil Glowing yang dengan suka cita membagi pengalamannya seputar cara meramu keluarga yang harmonis. Dipandu host yang juga sedang hamil tapi enegiknya kelewatan—Mba Tifa, Nina berbagi tentang caranya mencintai keluarga. Ia mewujudkannya dengan kesadaran terhadap kewajiban dan haknya sebagai punggawa rumah tangga sekaligus tandem suami dalam segala situasi dan kondisi *cie ilah, saya nulisnya macem soal PPKn beud.


Update posisi sebelum acara dimulai. (Foto oleh Dian Ismyama)

Cantik luar dan dalam, adalah hal yang menurut Nina menjadi kunci kepercayaan dirinya dalam lingkup rumah tangga. Nina selalu memulainya dari merawat jiwa hingga fisik sebaik-baiknya. “Saya sebisa mungkin mengajak pasangan terlibat dalam berbagai hal. Dia jadi tahu bagaimana saya berusaha, trus bagaimana bekerja sama, dan ikut puas dengan hasil yang kami capai,” ujan Nina yang bahkan selalu melibatkan suaminya dalam keputusan yang dianggap kecil oleh sebagian orang seperti memilih bestyle berpakaian dan referensi perawatan tubuh. Waaah ... Nina beruntung banget ya ketemu pasangan yang bisa diajak diskusi seasyik itu :D

Tampil resik “di dalam” juga menjadi suatu keharusan. Makanya Nina sangat percaya sama resep turun temurun di keluarganya: memakai air rebusan daun sirih untuk merawat daerah kewanitaannya. Repot ya? Hari gini nyari daun sirih di kota besar kayaknya susah banget. Untungnya urusan persirihan udah terbantu semenjak ada yang namanya anugerah terindah zaman ini: Resik-V Godokan Sirih, mamen!

Sebotol Resik-V Godokan Sirih ini menjelma jadi cairan pembersih multifungsi favorit saya saat ini. Saya pikir sabun seperti spek yang sudah sering ada di pasaran, eh ternyata teksturnya mirip air dengan kandungan ekstrak daun sirih. Wanginya unik, masih kentara aroma sirihnya, tapi masih bisa ditolerir oleh orang yang nggak suka aromanya. Karena alami dan otomatis berfungsi sebagai antiseptik, nggak hanya bisa pakai membasuh daerah kewanitaan, saya pakai juga sebagai sabun untuk ketiak dan anggota tubuh lainnya. Surgawi banget sensasinya kalau dicampurkan di air hangat. Well, well, well, kalau yang sudah menikah atau aktif secara seksual pasti bisa langsung ngerasain manfaatnya, ya. Kalau buat yang masih single—karena Allah menghendaki—seperti saya? Ya tetap bermanfaat, bersih itu investasi coy. Apalagi pemakaian Resik-V Godokan Sirih ini juga sangat dianjurkan sebelum dan selama masa menstruasi (Asli setelah mencoba saya tersugesti banget sama sensasi bersihnya).

Lalu hadir pula Mba Yuna Eka Kristina, sebagai Senior PR Manager PT Kino Indonesia Tbk (produsen Resik-V), yang turut membagi pemahamannya tentang masalah yang kerap para perempuan anggap remeh, yaitu keputihan. Remeh tapi bisa jadi masalah besar yang sangat mengganggu jika tidak dicegah atau ditangani dengan benar. Mba Yuna semangat sekali lho bicara tentang #manfaatdaunsirih yang kini bisa kita temukan dengan mudah dalam sebotol (kemasan 100 ml) Resik-V Godokan Sirih. Setelah sesi tanya jawab dibuka, tak pelak ada banyak pertanyaan ditujukan ke Mba Yuna, seputar mengatasi keputihan, yang ternyata dialami hampir 70% perempuan. Tidak semua pertanyaan yang dilontarkan teman-teman bloggers bisa dijawab, karena beberapa kasus seperti keputihan saat masa kehamilan atau yang kasusnya akut, perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis.


The loveliest Nina Septiani dan Mba Yuna

Highlight pada hari itu adalah saat Mba Yuna menekankan pada kebahagiaan diri sendiri. “Sebelum merawat dan berusaha membahagiakan orang lain lain, kita sebaiknya memikirkan diri sendiri terlebih dahulu. Karena bagaimana pun kita ini berharga.” Lalu air menggenang di mata saya Nggak nangis kok, aku nggak cengeng. Huaaaa!

At last, sore hari itu tak bisa lebih hangat dan akrab lagi setelah bersama menyantap pecel dan gulai daun singkong yang membuat hilang kesadaran saking enaknya. The most fun part of the day was ... saat kami belajar teknik hand-lettering dari nol. Seru sekali! Tentunya dipandu dan difasilitasi oleh para kru Jogja Creatype yang superhelpful. Hasil lettering saya bukan karya yang apik tapi setidaknya saya berhasil melepaskan kekakuan jari dan pikiran ini barang sejenak.


Struggling. Ini pertama kalinya saya nyobain lettering. (Foto oleh Dian Ismyama)
Serius berjamaah. (Foto oleh Ima Satrianto)
Mine! Suprisingly, it was not that bad.

Gabung di acara seperti ini, kumpul-kumpul sama orang-orang baik yang tidak pernah sekalipun menyampaikan hal buruk tentang fisik ke depan buka saya (ya iya lah), dan ngobrol tentang hal-hal yang membangkitkan semangat merawat diri sendiri UNTUK DIRI SENDIRI DULU sebelum untuk pasangan dan citra di hadapan orang lain, menjadi pengalaman tersendiri yang terkenang manis di hati.


Yay, it was a blast!
Lantas, apakah menyibukkan diri seperti ini menjawab kegelisahan saya di awal? Tentunya, belum, karena jalan untuk menumbuhkan rasa cinta/penghargaan/percaya terhadap diri buat saya masih sangatlah panjang. Tapi paling tidak, berbaur dan bergaul menjadi salah satu cara saya latihan untuk lebih pede.

Outfit of That Day. (Foto oleh Dila Maretihaq Sari)


Hal cemen yang bikin saya suka lainnya adalah ketika iminta berpakaian sesuai dresscode serba hijau yang seger, rasanya seperti diberi panduan supaya nggak salah kostum :’) Apalagi, sejak awal saya diperkenankan untuk bisa membagi voucher belanja buat (((kita semua))) di hijup.com dengan memasukkan kode "HIJUPBMUYOGYAKARTA" saat checkout, atau sederhananya bisa klik mulai dari sini. Kode voucher berlaku hingga 31 Januari 2018. Dipilih-dipilih! Ulalaaa!


Thank you for having me, HIJUPxArisanResik. I really had so much fun. 

Until next time! :)


Love & light,

Nadia.



Comments

  1. serius Nad pernah ga pede kayak gitu? nggak kelihatan lho, soalnya aslinya terus terang cantik dan tinggi pula. gayanya juga easy going.. ayuklah semangat pede!=)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kedengerannya kayak halu dan lemah ya? Tapi herannya jadi lebih lega, karena aku sedang nyoba lebih berani speak up sama hal-hal yang tertumpuk di alam bawah sadar. Sekali lagi makasih mak diii udah mampir dan menyemangatin.

      Delete
  2. Wuingg..padahal aku liat nadia anaknya pede loh..hehe..cantik pula 😍.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiih Mba Rachma kalau terlihatnya begitu. Aku jadi makin semangat nih buat ngeboost pede & banyakin bergaul.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts