Recap Post / From Ghibli to Lucy



Saya selalu mengira kalau saya ini tipe yang sulit sekali diusik kenyamanannya. Well, as you can see that 90% of my life was spent on working at the office or sleeping at my room. Haha, pretty pathetic, but yea, that’s the reality. Dan sebenarnya itu bukan hal yang bisa dibanggakan juga, sih.   

Yang bikin bangga itu adalah kalau saya yang mager ini akhirnya mau repot-repot keluar dan bergaul.

Hidayah itu ada! Hahahaha. Saya ‘bergerak’ untuk melihat pameran Ghibli dan menyaksikan salah satu musisi terfavorit saya di dunia ini secara langsung. Maka dari itu saya memutuskan bahwa sudah saatnya tulisan ini diunggah ala kadarnya—dengan pikiran, “Harus ditulis segera, bagus nggak bagus bikin dokumentasinya please!” karena moodnya bisa ilang kalau didiemin lebih dari tiga bulan (kebiasaanku banget itu) jadinya malah bisa nggak ditulis sama sekali, huhuhu. Tuh kan saya jadi ingat lagi momen pertama kali nonton live dan ngobrol sama Yuna Zarai (di luar urusan pekerjaan) pada tahun  2014 lalu aja berakhir tak terdokumentasi, hoaks parah lah.

Breathe ... *belum apa-apa udah panik.


And let me get this started ...
 
Saya memulainya dengan perjalanan dari Jogja ke Jakarta, kota yang menurut saya selalu menarik dikunjungi—bukan ditinggali. Saya menghabiskan waktu dua hari Jakarta, tujuan utamanya adalah untuk melihat pameran World of Ghibli. Sedikit bangga karena saya ternyata nggak omong doang. Ya, saya emang udah sempat berikrar kalau sampai Studio Ghibli dibikinin pameran di Indonesia, saya udah pasti akan datang. Namun, beberapa hari menuju hari pameran dimulai saya mulai gamang nih (karena takut kecewa, salah satunya). Untungnya saya berhasil meluruskan niat awal dan beli tiketnya beneran, 1 tiket untuk tanggal 14 September aman. Salah satu hal yang bikin yakin adalah setelah membaca review Puty Puar yang udah hadir duluan (bahkan udah pernah ke museum aslinya di Jepang sono). Menurut Puty, pameran ini wuasiiikkk banget dan sayang kalau dilewatkan mereka yang pernah tersirep film-film keluaran Studio Ghibli. 

Asli deh, setelah datang langsung saya benar benar benar terpuaskan. Serangkaian jembrengan instalasi dari Laputa sampai Howl's Moving Castle, dijamin membuat sisi jaim siapapun tergerus. Bye bye my cool self *sejak kapan cool sih? x). Semakin senang karena ada banyak usher/pemandu pameran yang sigap menjelaskan setiap instalasi, sekaligus, membantu fotoin-mengarahkan-bahkan kadang lebih semangat dari pengunjung.








Highlight terbaik untuk saya adalah area yang sayangnya tidak boleh diambil gambarnya karena merupakan area intim untuk orang-orang yang pernah berkenalan dengan karya-karya Ghibli. Sejarah, profil co-founders, goresan super detail dari semua film yang founders tim Studio Ghibli buat, wujud kantor Studio Ghibli yang misterius itu (akhirnya tau jugaaak bentuknya gimana), bikin mata saya panas kebawa haru gitu, mungkin karena musik latar yang juga mendukung ya. Lalu perjalanan intim itu diakhiri di ruang gelap tempat layar lebar yang memutar semua trailer, yang ntah kenapa semakin bikin merinding *ah emang cengeng juga sih pada dasarnya.


Dari Jakarta, saya melanjutkan ke-moger-an (Eh, jaga-jaga kalau ada yang belum ngeh: moger itu bahasa slang dan kependekan dari ‘mau gerak’, lawannya adalah mager atau ‘males gerak’) dengan ke Singapura untuk berkeliling mengecek perkembangan negeri jalur sutera tersebut (kayaknya sudah tiga tahun berlalu sejak kunjungan terakhir saya di sana). Singapura nggak banyak berubah, jadi alih-alih pelesir ke kawasan-kawasan famous, saya malah lebih milih keliling jalanan kurang hip dengan sepeda sewaan via app oBike yang sudah lama bikin saya penasaran. Kring, kring, keliling 1,5 jam sisanya lanjut jalan kaki. Woa, that was good.
 







Jumat sore saya melanjutkan terbang ke Manila demi menghabiskan dua malam tiga hari di sana. Tanpa itinerary selain menonton konser Lucy Rose pada  16 September di 19 East, sebuah cafe yang terletak di kawasan East Service Road, Muntinlupa.

Sebenarnya saya bisa saja memilih menonton di Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, atau mungkin Hanoi, tapi untuk tanggal memang paling pas yang di Manila. Lagi pula saya belum pernah sekalipun ke Filipina, (dan yakin tanpa alasan seperti ini, saya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di sana seumur hidup). Haha, segitunya … Tapi emang iya. Manila meeen, Manila, random amat kan ujug-ujug ke sana dalam rangka liburan. Alam dan perkotaan di Indonesia sepertinya sudah lebih dari cukup untuk memanjakan mata dan pikiran.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Internasional Ninoy Aquinoy (NAIA) Terminal 1, saya merasa cukup percaya diri. Ekspektasi saya, bakalan langsung bisa pesan Grab Car menuju ke unit studio yang sudah saya pesan via Airbnb. Yang terjadi adalah paket Indosat Asia+Australia saya berulah, padahal udah daftar 250.000 untuk 5 hari plus kena charge 149.000 biaya roaming internasional. Even though it worked just fine back in Singapore, tapi di Manila, saya nggak dapat koneksi sama sekali. Saya mulai panik, tapi tentunya langsung mencari layanan simcard di bandara. Saat mau membayar simcard Smart (nama providernya), saya baru tahu kalau lembaran 500 peso (sebagian dari uang yang sudah saya tukar di Money Changer Dua Sisi di Pacific Place Jakarta) sudah tidak diterima lagi sejak tahun 2017, YA TUHAN! Kan lumayan banget ya kalaau dirupiahkan bisa sampai Rp140.000 -____-. Jadi lah saya ke money changer bandara NAIA menukarkan peso tambahan buat jaga-jaga. KZL. Move on, move on, let it go, Nad. Untungnya Grabcar driver yang mengantar saya dari bandara ke apartemen sangat membangun mood, ramah dan chatty—saya suka banget karena saya benar-benar buta Manila. Dia lah yang membantu membuatkan itinerary saya dua hari ke depan dan langsung klop. Dia bahkan sudah punya pengalaman nonton konser di 19 East dan bilang kalau  venue di sana akan intimate, “You will have something great to tell your friends and family after the concert.” :’) Bless you, Ildefonso Imo Loria Jr!

Hari yang dinanti pun tiba, saya bangun lebih siang dan langsung ngecek lingkungan sekitar. Saya menginap di sebuah kluster urban bernama Filinvest City (semacam Alam Sutera, BSD, Sumarrecon, di sekitar Jakarta), dekat dengan Crimson Hotel tempat Lucy Rose menginap. Dekat dengan 7Eleven, jadi cari sarapan aman.  

Besoknya benar saja hari saya tergolong aman nyaman lempeng. Mulai brunch time saya berkunjung ke mal terdekat bernama Star Mall di kawasan Alabang. Mal ini mirip seperti yang ada di Indonesia, lengkap, nyaman-nyaman aja meskipun ramai. Setelah makan aman damai di Jollibee, beli cemilan dan buah di Robinsons, saya pun pulang dan tidur siang—supaya malamnya bisa segar bertahan sampai larut banget. 






  
Rencana yang tepat rupanya (ceilah malah bangga sendiri), sorenya saya bangun dengan segar, siap meluncur ke 19 East tepat waktu. Yasss!

Seperti yang diceritakan Ildefonso (remember? the Grabcar driver?), venue-nya sempurna! Kecil, pas, saya dapat duduk di depan panggung bagian sayap. Menyaksikan Lucy tampil dalam format akustik ditemani Ben (bassist) dan Andrew (multi-instumetalist), sudah lebih cukup. She’s really the sweetest, thoughful, performer that I’ve known. Every song she sings, every word she says between the songs, every reaction she makes every time talk to her from the side of the stage, shows how noble her heart and soul is.

Setlist yang dibawakannya malam itu total berjumlah 15 lagu, semua dibawakan dengan cerita pengantar, kami semua seperti sudah sangat dekat. Saya bersyukur tak hentinya. Musik Lucy menyemangati hari-hari sudah bertahun-tahun lamanya, kini saya berkesempatan mendengarnya langsung. Tak lupa saya juga merekamnya dengan smartphone yang saya posisikan di bawah dagu—biar nggak ganggu mata saya. Jadi banyak sekali kena bocoran suara saya yang ikut menyanyikan lagunya, gambarnya pun jadi kurang presisi, tapi tak apa, buat konsumsi saya pribadi, so it should be enough. “Floral Dresses”, “Middle of the Bed”, diakhiri dengan “Shiver” (my forever favorite song of her!) dan “I Can’t Change It All”. We’ve been blessed with all the good songs that night!






Konser berakhir setelah dua jam, dan kami memang sudah dikabari kalau tidak ada sesi meet and greet. Okay. Tapi karena sudah sejauh ini, saya paling tidak ingin bertemu dengannya sebentar, untuk bilang langsung bagaimana musiknya sangat berarti. Momen itu sangat akan saya kenang, antara saya langsung pulang dan tidur, atau saya berusaha semampu saya. Saya menghubungi panitia dari Bandwagon Philipines yang sedang berjualan vinyl di depan, mengeluarkan paspor saya, dan bilang kalau saya sudah sejauh ini datang dari Indonesia, ingin sekali Lucy menandatangani setlist panggung yang sudah saya ambil dari panggung tadi. Mereka kaget tentu saja, ngapain pula ini bocah jauh banget satu-satunya orang dari luar negeri yang datang ke gig ini. Memangnya Lucy tidak ke Indonesia? Iya, tidak dalam waktu dekat mungkin, saya bilang. Kenapa tidak ke Singapura? Kan lebih dekat? Saya kehabisan tiket, dan sejujurnya jadwal di Singapura tidak begitu pas dengan perhitungan saya, jadi Manila adalah pilihan terbaik. Mereka akhirnya ngeh, tapi masih terperangah, dan akhirnya bersegera bicara tentang saya dengan Lucy di dalam. Setelah menunggu sekitar satu jam ternyata saya dipanggil, bukan karena hanya Lucy ingin menandatangani kertas setlist, tapi ia juga ingin bicara sama saya.


YA ALLAH APA INI YA ALLAH, jantung berdegup semakin kencang setelah Lucy beneran berada di depan saya. Terbata-bata saya bilang kalau saya datang dengan penerbangan yang lumayan panjang, just for her, just to see her playing her music in front of me. Dia menangis, saya juga menangis. “Don’t feel sorry for me, because I’ve just had the best day of my life, even saying this made me cry.” Lalu saya bilang kalau musiknya adalah penyelamat, dan ia sudah tentu berharap saya tetap bersemangat. Saya memeluknya, 10 detik sambil berterima kasih atas kesempatan ini. Lalu, dia bilang kalau akan memberi saya tiket konser, bukan hanya untuk saya, tapi untuk keluarga saya juga. Dia menuliskan alamat emailnya di balik kertas setlist dan mengharuskan saya untuk kirim email malam ini juga. PEGANGAN NAD PEGANGAN. Saya masih bengong, tapi kami dikerubuti fans yang penasaran dengan tali kasih itu, ok, saya akan minggir dan memberi kesempatan bagi mereka juga untuk mereka yang ingin menyapa Lucy. Tangan masih gemetaran, tapi tetap menulis email sambil dikerubutin kru Bandwagon yang bilang kalau saya sangat beruntung. Alhamdulillah.

Superkucel tapi superhappy!







Photographed by Iya Forbes for Bandwagon Philiphines







Sebelum pulang saya menyempatkan ikutan after party-nya Bandwagon, ada solois Filipino berusia 18 tahun yang sangat berbakat, Elise Huang, tampil di panggung. Senang mengetahui kalau musiknya asik, saya bertahan sampai Elise selesai. Meski masih ada lima band lain yang akan tampil, sudah lewat tengah malam, saya kudu balik ke apartemen setelah sebelumnya pamit ke semua anak-anak Bandwagon yang bertugas. Keep in touch, guysss! Udah kayak apaan ya x)) Di jalan, saya bercerita pada abang Grab—yang ditanggapinya dengan lempeng, hingga cerita ke para satpam yang menjaga apartemen tempat saya tinggal, mereka semua pandai banget ikut bergembira, hihihi.

Paginya, minggu pagi yang bersinar, dari jendela kamar saya bisa melihat hotel tempat Lucy menginap. Saya senyam-senyum, mengecek email, dan … dia tidak basa-basiii, dia membalas email saya dan saya pingsan. It was so surreal, Lucy why do you have to be so nice??? Ibu saya sampai cekikikan waktu saya lapor padanya via Facetime, mungkin dipikirnya saya sudah gila. Tapi dia senang karena Lucy sangat baik, dan bilang dia mungkin akan ikut menonton Lucy saat ke Jakarta, Januari tahun depan. Kikikik….

Hari itu hari terakhir saya di Manila, malamnya saya sudah harus terbang kembali ke Indonesia. Sesuai itinerary, sejak pagi saya akan ke Intramuros, sebuah kota tua cikal bakal Manila yang sekarang dijadikan tujuan wisata utama kota ini. Karena saya menginap di selatan dan Intramuros di Metro Manila berada di utara, perjalanan saya dengan abang Grab agak panjang, 1,5 jam lumayan lho, plus traffic yang saya nikmati dengan sepenuh hati. Lalu lalang Jepney, atau angkot khas Filipina, yang bentuknya lucu jadi hiburan mata saya selama perjalanan. Suasana kota yang khas, bikin saya ingat foto-foto Jakarta masa orde baru. Jadul-jadul gimana gitu. Abang Grab tak lupa mengingatkan saya untuk selalu mawas diri dan menjaga barang-barang. Ya, karena meski wajah saya nggak banyak berbeda dengan Filipinos, tapi jilbab yang pakai jelas bikin saya mencolok di antara kerumunan. Siap! Saya akan hati-hati.

Hari itu berjalan damai, saya keliling Intramuros, masuk ke Fort Santiago, ngaso di tepian Sungai Pasig yang sangat lebarrr, bersih (surprisingly), dengan kapal-kapal berlalu lalang, lalu piknik singkat dengan snack saya sendiri di taman di samping Fort Santiago. Huaaah… menyenangkan sekali. Seharian luntang-lantung saja. 
 













Sebelum sore saya sudah ingin sekali mengecek SM Mall of Asia, yang kata abang Grab tadi, adalah mall yang punya pemandangan laut. Okay, I’m in! Sesampainya di sana, saya nggak langsung menemukan bagian yang menghadap lautnya, ternyata mallnya luas sekali, tiga bagian yang terpisah. Saya muternya udah kayak mau gila, dengan lautan manusia yang pulang misa dan mau main ke mal, sungguh cendol ramaiii geeelaaak. Syukurlah langsung bisa nemu lautnya, yayyy, mari ngalay dulu.





 
Ngalay udah, ngecek bioskop dan film-film yang diputar udah, beli kosmetik udah (eh tapi tapi pas cetaphilnya habis kok, dan di sana sedang diskon *alasaaaan -___-), bersih-bersih (saya baru tau kalau ada vending machine tisu basah di sana, 5 peso untuk satu sachet tisu basah isi dua lembar, ok), lalu saya pun makan lagi. Masih amazed sama mall yang ramainya naudzubillah itu, saya duduk di semacam taman antar unit mall dan ada drumband dong mainin lagu-lagu top 40. Hahahaha, pusing gua asik banget.

Bego bego bego, udah tau flight-nya malem dan mepet, saya kebanyakan kelayapan sampai perang, sampai kelewatan airport shuttle bus yang berencana saya naiki dari mall itu. AAAAAAAAAAA. Untungnya bandara deket, jadi pilihan Grab/Uber tetap masuk akal, meski harganya naik karena rush hour, dan dapetnya susah banget. Udah mau nangis. Sekali lagi di tengah kepanikan itu, saya ketemu seorang ibu-ibu yang pakai jilbab juga, tapi orang Filipina, ikut menenangkan saya dan bilang kalau saya pasti dapat Ubernya. Sabar… Iya, Bu. Kala itu saya benar-benar kangen Mama saya deh.

Saya pun tiba di bandara tepat waktu, check in berlangsung smooth, saya masih sempat menghabiskan recehan peso terakhir saya untuk beli sebungkus mangga khas Filipina di toko snack bandara. Semua berjalan lancar dan penerbangannya tepat waktu. Bye for now, Manila. Nggak bisa janji kalau saya akan segera kembali lagi, tapi saya nggak akan melupakan kenangan singkat nan berharga ini.

Thank you Manila, thank you for all the Grab drivers and Uber drivers, Josemari & Raine (my Airbnb host), security guards in the apartment, Bandwagon Philipines crews, 19 East, and of course, Lucy Rose, Will Morris, Ben Daniel, Andrew Stuart Buttle. Until next time :)

Saya lega, ternyata si anak mager bisa gerak dikit juga, ya. Mudah-mudahan sih malesnya jadi lebih tergerus lagi.



Love & light,

Nadia


*Oh iya, just in case kalau ada yang membatin kok hidup saya random amat bukannya hidup yang bener aja, bikin keluarga kek, jadi PNS kek, kuliah sampai S3 di luar negeri kenapa. Lah, saya juga mau banget kok berbagi cerita tentang anak yang diimunisasi, atau masak untuk bekal suami, atau liburan bareng mereka, tapi emang belum punya aja, jadi saya ngebaginya hal-hal tentang diri saya sendiri dan yang kurang esensial.

Comments

Popular Posts