Monday, November 29, 2010

Rezim Otoriter Berakhir

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya datang ke sebuah rumah kecil di sebelah barat Masjid Kampus UGM, di Bulaksumur B21. Kedatangan yang awalnya sudah harus saya lakukan sejak tahun 2006, tapi akhirnya malah terealisasi di tahun 2007. Berbekal formulir, CV, dan cengengesan, saya akhirnya diterima dalam bentuk awak magang redaksi. Hasil dari belas kasih Mba Tami dan Mbak Ipeh saya pikir, hehe.

Jadi reporter dengan kemampuan rata-rata dan mencari berita hanya terkesan sebagai formalitas, itu adalah gambaran di tahun pertama saya. Hah... Tahun yang berat karena saya sepertinya belum bertemu dengan 'klik' itu. Kemudian, tahun kedua berjudul tahun redaktur pelaksana menjadi jauh lebih sreg. Bukan hanya karena mungkin pekerjaan yang berbeda, berkutat seputar mengedit, dan bertelisik. Awe dan Mas Jaki adalah peneror sekaligus koordinator Telisik yang sangat ulung (dengan tentunya mengesampingkan kecacatan permanen pada pribadi mereka), saya jadi makin senang karena digelari penulis Telisik terbaik bersama Imel. Weheee... Rasa nyaman makin saya temukan perlahan dengan teman-teman super yang saya sebut sebagai para pendiri "Bulaksumur Gosip". Membuat saya ingin melanjutkan setahun lagi. Setahun lagi yang ternyata harus ditempuh dengan konsekuensi. Konsekuensi yang menyenangkan, anggap saja begitu :)

Kini di akhir, saya sudah bukan Punggawa Umum lagi. Tidak lagi meneror awak-awak media komunitas itu dengan kegiatan otoriter dari saya dan rekan-rekan Dewan Peneror yang lain. Buku Otoriter kami kini akan berhenti terisi oleh rencana-rencana licik setiap minggunya. Susan akan kembali fokus ke dunia kuliah dan proyeknya. Sinta kini tidak lagi akan terbagi waktunya, full time soybean ice cream researcher. Alfi akan kembali fokus memikirkan kuliah dan KP-nya. Tio akan dapat waktu sensus yang tenang. Dan, Beryl adalah tumbal terpilih untuk melanjutkan tugas berat meneror untuk setahun ke depan lagi, selamat berjuang dengan tim baru ya, Berlay!

Satu beban terangkat. Seribu kenangan terekam menyeruak. Dan kerinduan ini semakin menjadi-jadi.

Terima kasih yang terdalam untuk segalanya.
Untuk tempat sempit dengan orang-orang berhati lapang. Dan tentunya tempat dimana tawa renyah yang bisa didapat sedemikian gampang.

Semuanya.


People come, people go. So long, Surat Kabar Mahasiswa Bulaksumur :)